FENOMENA penemuan komunitas online kekerasan ekstrem oleh Densus 88, yaitu ”True Crime Community (TCC)” cukup menggemparkan masyarakat Indonesia belakangan ini. Setidaknya sekitar 70 remaja Indonesia bergabung dengan komunitas tersebut serta terpapar ideologi kekerasan ekstrem.
Di dalam komunitas TCC, para anggotanya saling berbagi dan mendiskusikan beragam konten maupun bahasan yang berbau kekerasan ekstrem dan mengandung unsur kesadisan. Peristiwa itu menjadi tamparan sekaligus teguran keras bagi seluruh orang tua, instansi pendidikan, dan kalangan kaum muda.
Apakah itu bentuk kelengahan kita menjaga generasi penerus bangsa? Mengapa mereka bisa terpapar? Seberapa besar dampak yang akan ditimbulkan? Dan, bagaimana cara meredamnya? Ya, sangat mungkin itu bentuk kelengahan kita bersama untuk menjaga generasi penerus bangsa.
Usia remaja merupakan usia yang rentan, penuh tantangan, dan masa pencarian jati diri (Hurlock, 2017). Di usia remaja, mereka seperti tanah liat yang setengah dibentuk.
BACA JUGA:Agama dan Ideologi dalam Suatu Negara
Lingkungan memiliki peran yang cukup besar untuk membentuk mereka menjadi apa. Jika lingkungan pergaulannya negatif, akan besar kemungkinannya mereka juga akan terpapar berbagai hal negatif pula.
Usia remaja merupakan usia berkelompok dan itu memang menjadi salah satu perilaku yang wajar dilakukan remaja. Usia remaja menjadi mangsa empuk bagi komunitas TCC atau komunitas serupa lainnya untuk menanamkan ideologi.
Ditambah sejumlah data yang telah ditemukan pihak berwenang yang menyatakan bahwa sebagian besar dari 70 remaja yang terpapar merupakan penyintas bullying, broken home, ataupun trauma akibat kekerasan di rumah.
Bisa jadi mereka selama ini selalu mendapat tekanan, terhalang untuk menyampaikan pendapat, tidak diakui, tidak diperhatikan, ataupun tidak bisa merasakan kehangatan rumah secara psikologis.
Rumah bukan hanya soal bangunan, melainkan juga kehangatan yang tertuang di dalamnya. Kata rumah di sini lebih mewakili peran keluarga dan orang tua. Remaja tidak hanya membutuhkan sandang, pangan, papan maupun kehadiran orang tua secara fisik, tetapi remaja juga membutuhkan peran aktif orang tua untuk mendampingi tumbuh kembangnya.
Minimnya peran orang tua dalam kehidupan remaja membuat mereka kehilangan pengarah dan tempat yang dapat membuat mereka merasa diterima.
Oleh sebab itu, besar kemungkinan, kondisi itulah yang memotivasi anak-anak tersebut mencari ”rumah lain” yang bisa menjadi tempat nyaman, tempat mereka melampiaskan perasaan, mendapat perhatian maupun tempat di mana mereka mendapat dukungan.
Mengingat, setiap orang membutuhkan validasi, perhatian, dukungan, dan tempat yang bisa menerima mereka. Sebab, ”rumah lain” tersebut belum tentu sesuai dan tepat untuk perkembangan karakter serta psikologis mereka.
Alih-alih mendapatkan validasi, rasa aman dan nyaman, para remaja justru berisiko termakan umpan dan terjerumus ke dalam paparan ideologi kekerasan ekstrem.
Terpaparnya 70-an remaja dengan ideologi kekerasan ekstrem memiliki dampak yang sangat besar dan masif bagi perkembangan psikologis anak atau remaja, bagi lingkungan sekitarnya, maupun bagi bangsa dan negara.