IDULFITRI, sebagai peristiwa keagamaan, menandai kembalinya manusia pada fitrah. Kembali pada kesucian diri setelah menjalani disiplin spiritual Ramadan. Sementara itu, Lebaran, dalam perspektif kultural di Indonesia, menjelma menjadi ruang sosial tempat nilai-nilai itu dihidupkan melalui ritual perjumpaan, silaturahmi, dan kebersamaan yang nyata.
Sebagai peristiwa kultural, Lebaran di Indonesia selalu ditandai oleh ritual atau tradisi yang sangat khas, seperti mudik, anjangsana silaturahmi, hingga tetirah dalam tradisi Jawa. Semua praktik itu pada dasarnya adalah bentuk komunikasi.
Namun, komunikasi bukan sekadar pertukaran pesan, melainkan juga perjumpaan yang utuh antara manusia dan manusia. Dalam perspektif ilmu komunikasi, itulah komunikasi interpersonal dalam bentuk paling lengkap. Dilakukan secara langsung atau tatap muka, kontekstual, penuh isyarat nonverbal, dan sarat makna emosional.
BACA JUGA:Panta Rhei Idulfitri 1447 H: Mengalirkan Fitrah Spiritual Menuju Presisi Keadilan Ekologi
BACA JUGA:Idulfitri dan Tren Baru Komunikasi
Namun, kini makna dan tindakan komunikasi itu mengalami pergeseran. Tidak hilang, tetapi berubah bentuk. Bahkan, dalam perubahan itu, ada yang tereduksi.
LEBARAN ADALAH KOMUNIKASI RITUAL
Dalam kajian komunikasi, ritual bukan hanya tindakan berulang, melainkan juga proses penciptaan makna bersama. James W. Carey melalui gagasan ”ritual view of communication” menegaskan bahwa komunikasi bukan sekadar transmisi informasi, melainkan juga praktik membangun kebersamaan dan realitas sosial.
Dalam konteks ini, Lebaran adalah ruang di mana masyarakat Indonesia ”merayakan makna bersama” melalui perjumpaan.
Ketika seseorang mudik, ia tidak hanya berpindah tempat, tetapi juga memasuki ruang simbolis di mana relasi diperbarui dan identitas diteguhkan kembali. Ia pulang bukan hanya ke rumah, tetapi ke jaringan makna yang membentuk dirinya.
BACA JUGA:BI Gelontorkan Rp185,6 Triliun Uang Tunai Baru Sambut Ramadan dan Idulfitri 2026
BACA JUGA:Prabowo: Idulfitri adalah Momen Memperkuat Persatuan dan Solidaritas Bangsa
Jabat tangan saat silaturahmi bukan sekadar gestur. Ia adalah pesan. Permintaan maaf yang diucapkan langsung membawa bobot emosional yang tidak tergantikan. Nada suara, ekspresi wajah, bahkan jeda dalam kalimat –semua menjadi bagian dari makna yang dikirim dan diterima.
Di sinilah pentingnya kehadiran fisik. Erving Goffman menekankan bahwa interaksi tatap muka adalah panggung tempat manusia mengelola kesan, membangun makna, dan mempertahankan ”wajah” sosialnya. Dalam konteks Lebaran, panggung itu bukan sekadar performa, melainkan juga ruang kejujuran emosional.
Lebaran, dengan demikian, adalah puncak dari komunikasi yang utuh. Ia menggabungkan pesan verbal dan nonverbal, emosi dan simbol, individu dan komunitas. Namun, komunikasi yang utuh itu kini mulai tergerus.