Pembunuhan Gadis di Kamar Hotel di Medan: Kasus Misoginistik

Jumat 20-03-2026,09:33 WIB
Oleh: Djono W. Oesman

Misoginistik tidak cuma berkembang di Indonesia, tapi juga internasional.

Dikutip dari The Guardian, Senin, 23 Februari 2026, berjudul I am a 15-year-old girl. Let me show you the vile misogyny that confronts me on social media every day, diungkapkan bagaimana hal itu melanda Inggris sekarang.

Seperti judulnya, pengungkapnya gadis usia 15 tahun. Mengungkap pengalamannyi tentang penyebaran misoginistik di medsos sekarang.

Gadis (anonim) itu membuka dengan kalimat begini: Jika Anda mirip dengan orang tua saya, Anda mungkin tidak akan memahami, sebagian besar konten yang membanjiri media sosial saya sekarang, tidak peduli seberapa keras saya mencoba untuk menghindarinya, dipenuhi misoginistik.

Berikut contoh terbaru dari Instagram dia yang ditulis remaja pria: ”Apakah kalian para perempuan pernah bilang ke teman-teman perempuan kalian, ’santailah, kamu terlalu sering berhubungan intim dengan banyak pria’?”

Intinya, itu berarti: ”Para perempuan – apakah kalian pernah bilang ke teman-teman perempuan kalian bahwa mereka pelacur dan harus berhenti membiarkan begitu banyak pria meniduri mereka?”

Cewek anomim itu: ”Video pendek yang diunggah oleh seorang pria berusia 19 tahun itu muncul di beranda Instagram saya, tanpa saya inginkan, atau berinteraksi dengan konten serupa lainnya.”

Komentar-komentar yang muncul setelahnya penuh dengan misogini. ”Perempuan melihat jumlah pasangan seks sebagai papan peringkat dan mereka mencoba untuk saling mengungguli” adalah salah satunya. Intinya: semua perempuan kini bersaing dalam hal seks bebas.

Cewek itu: ”Perhatikan penggunaan kata ’perempuan’ dalam unggahan-unggahan ini. Di sini, kata itu bukanlah istilah netral, melainkan istilah yang menghina. Kata itu digunakan oleh remaja laki-laki untuk merendahkan kita dan menyamakan kita dengan hewan.”

Dilanjut: ”Kita juga disebut ’thots’ (pelacur), ’community pussy’ (pelacur komunitas), dan ’bops’. ’BOP’ adalah singkatan dari ’been over passed’ (sudah terlalu sering berganti pasangan seks) dan merupakan istilah merendahkan yang digunakan laki-laki untuk menyebut perempuan yang menurut mereka sudah ’dipermainkan’ atau terlalu banyak berhubungan seks.’

Menurutnyi, kesetaraan seksual telah lenyap di dunia maya. Tidak masalah jika laki-laki berhubungan seks, tetapi ketika perempuan melakukannya, mereka disebut tidak berharga dan dianggap sebagai objek seks. 

Cewek anonim itu menceritakan, dia seperti kebanyakan remaja di Inggris, menghabiskan sebagian besar waktu luang di media sosial. Sering menelusuri video pendek di aplikasi seperti Instagram atau TikTok. Semua temannyi menggunakan aplikasi tersebut dan banyak yang menghabiskan beberapa jam sehari di sana. 

Dia aktif mencoba menghindari misogini daring, tetapi dia mengaku terus-menerus menemuinya setiap kali dia membuka aplikasi media sosial utama. Hanya butuh beberapa menit sebelum muncul misogini yang halus atau terang-terangan.

Misalnya, kolom komentar pada unggahan seorang gadis yang dipenuhi komentar tentang tubuhnyi, video yang dibuat oleh pria atau anak laki-laki dengan keterangan lelucon yang merendahkan, dan bahkan topik seperti kekerasan dalam rumah tangga atau pemerkosaan, yang ditertawakan.

Cewek itu: ”Seks sering disebut sebagai ’cracking’ oleh kelompok usia saya, di mana laki-laki yang melakukan cracking dan perempuan yang di-cracking. ’Body count’ –mengacu pada berapa kali seseorang telah berhubungan seks– hanya digunakan untuk merendahkan perempuan.”

Dilanjut: ”Seorang gadis dengan ’body count tinggi’ dianggap ’sudah terpakai’ dan tidak lagi berharga. Kamu selalu bisa tahu jika dia sudah sering berhubungan seks, kata seorang anak laki-laki di Instagram.”

Kategori :