Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat juga diimbau untuk menyetok air sebagai langkah antisipasi jika kekeringan berlanjut dan intensitasnya meningkat.
Di saat yang sama, BRIN juga mengingatkan wilayah Indonesia bagian utara yang berada di atas garis ekuator. Kawasan tersebut berisiko menghadapi dampak berbeda.
Daerah-daerah itu diprediksi berpotensi mengalami curah hujan yang tinggi. Sehingga tantangan yang dihadapi bukan kekurangan air, melainkan kemungkinan meningkatnya gangguan cuaca seperti intensitas hujan yang lebih besar dibanding periode normal.
BACA JUGA:Prediksi Lebaran 2026 versi BRIN dan BMKG Jatuh 21 Maret, Posisi Hilal dan Elongasi Bulan Jadi Kunci
BACA JUGA:BRIN Gandeng Kampus Teliti Hujan Mikroplastik di Surabaya
Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin menekankan pentingnya kewaspadaan pemerintah terhadap dampak kekeringan yang dapat mengganggu ketahanan pangan nasional.
"Pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional, khususnya di wilayah Pantura Jawa. Selain itu, dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi," ujar Erma.
BRIN berharap pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat melakukan langkah adaptif sejak awal musim kemarau.
Baik melalui perencanaan ketersediaan air, penguatan strategi antisipasi kekeringan, maupun mitigasi potensi kebakaran hutan dan lahan. Itu menjadi salah satu risiko lanjutan ketika kondisi menjadi lebih kering. (*)