Fenomena Godzila El Nino 2026, Siap-siap Panas Panjang Pasca Lebaran

Jumat 20-03-2026,13:30 WIB
Reporter : Agustinus Fransisco
Editor : Salman Muhiddin

HARIAN DISWAY - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan potensi perubahan ekstrem cuaca yang dipicu fenomena Godzilla El Nino pada April 2026.

Dalam prediksi yang dirilis BRIN, Indonesia berisiko mengalami kemarau yang lebih panjang dan lebih kering, dengan kondisi diperkuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Menurut BRIN, kemarau yang lebih kering tidak berdiri sendiri. Godzilla El Nino dan IOD positif berpotensi memengaruhi pola pembentukan awan serta distribusi hujan.

Munculnya fenomena tersebut juga disebut akan membuat proses pembentukan awan dan hujan cenderung terkonsentrasi di atas Samudra Pasifik. Sehingga wilayah Indonesia justru berpeluang mengalami minimnya awan dan hujan.

BACA JUGA:BMKG Nyatakan Kondisi Iklim Sepanjang Tahun 2025 Bebas Anomali, Tidak Ada El Nino atau La Nina!

BACA JUGA:BNPB: El Nino dan La Nina Berdampak pada Musim Bencana di Indonesia

IOD positif di Samudra Hindia ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di wilayah dekat Sumatera dan Jawa. Perubahan kondisi laut itu berpotensi mendorong penurunan surah hujan secara signifikan pada sejumlah wilayah Indonesia.

BRIN memperkirakan kombinasi Godzilla El Nino dan IOD positif akan berlangsung sepanjang musim kemarau Indonesia April–Oktober 2026.

Pada periode awal kemarau, yakni April hingga Juli 2026, BRIN menyebut data model prediksi menunjukkan kecenderungan kemarau kering di sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur.

Artinya, wilayah-wilayah tersebut memiliki peluang lebih besar mengalami berkurangnya curah hujan dan meningkatnya durasi kondisi kering.

Meski demikian, BRIN juga menegaskan tidak semua wilayah akan mengalami pola yang sama. Prediksi menyebut kawasan Sulawesi dan Maluku, termasuk wilayah Halmahera, berpeluang tetap mendapatkan curah hujan yang tinggi.

BACA JUGA:El Nino Sudah Netral, La Nina Bakal Masuk Indonesia

BACA JUGA:El Nino Bikin Musim Hujan di Surabaya Telat, Ini Penjelasan BMKG Tanjung Perak

Perbedaan respons curah hujan antardaerah itu penting dipahami agar kebijakan adaptasi cuaca dapat lebih tepat sasaran. Terutama untuk sektor pertanian dan manajemen air.

BRIN menyoroti dampak potensial kekeringan yang dapat dipicu oleh El Nino dan IOD positif. Salah satu konsekuensi yang dikhawatirkan adalah gagal panen di wilayah pertanian Pulau Jawa dan Sumatera bagian selatan.

Kategori :