WADUK PACAL di Kecamatan Temayang, Bojonegoro menjadi destinasi wisata alam sekaligus peninggalan sejarah Belanda yang masih memikat hingga kini, Sabtu, 21 Maret 2026.
Terletak sekitar 35 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro, waduk ini dapat diakses menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum jurusan Bojonegoro–Nganjuk. Perjalanan menuju lokasi bahkan menjadi daya tarik tersendiri karena wisatawan akan melewati hamparan hutan jati di kawasan Pegunungan Kendeng yang asri dan menenangkan.
Waduk Pacal memiliki luas sekitar 3,878 kilometer persegi dengan kedalaman mencapai 25 meter. Dibangun pada masa kolonial Belanda dan mulai beroperasi pada tahun 1933, waduk ini menjadi bendungan beton pertama di Indonesia yang hingga kini masih dimanfaatkan sebagai sumber irigasi pertanian.
Selain nilai historis, panorama alam di sekitar waduk juga menjadi daya tarik utama. Hamparan air yang luas berpadu dengan pepohonan rindang menciptakan suasana sejuk dan nyaman bagi pengunjung yang ingin melepas penat dari aktivitas sehari-hari.
BACA JUGA:Ketika Petani Bojonegoro Petik Manfaat Pupuk Organik
BACA JUGA: Ratusan Notaris Bakorwil Bojonegoro Ikuti Pembinaan Kepatuhan PMPJ
Fasilitas di kawasan wisata ini cukup lengkap, mulai dari pesanggrahan atau tempat menginap, area memancing, perahu dayung, hingga deretan warung makan yang menyajikan berbagai kuliner sederhana. Pengunjung bahkan dapat langsung menikmati ikan hasil pancingan dengan meminta pedagang setempat untuk membakarnya.
Di musim hujan, Waduk Pacal menjadi surga bagi para pemancing. Ratusan pemancing dari berbagai daerah datang untuk mencoba peruntungan, bahkan ada yang menyewa perahu milik warga untuk menjangkau titik-titik strategis di tengah waduk dengan tarif terjangkau.
Sementara itu, pada musim kemarau, area di sekitar waduk dimanfaatkan oleh warga sebagai ladang dan kebun. Hal ini menunjukkan bahwa Waduk Pacal tidak hanya berfungsi sebagai objek wisata, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian masyarakat setempat.
Sejarah panjang pembangunan waduk ini bermula dari rencana proyek irigasi besar di Bengawan Solo pada akhir abad ke-19. Setelah beberapa kali mengalami perubahan rencana, Waduk Pacal akhirnya dibangun pada tahun 1927 dan selesai pada 1933, memberikan manfaat besar bagi sektor pertanian di Bojonegoro.
Pintu masuk Taman Wisata Waduk Pacal, Bojonegoro.--
Meski demikian, waduk ini kini menghadapi tantangan berupa sedimentasi yang cukup tinggi setiap tahunnya. Kapasitas tampung air pun mengalami penurunan dibandingkan saat awal dioperasikan. Namun, keindahan dan nilai historisnya tetap menjadikan Waduk Pacal sebagai salah satu destinasi favorit masyarakat.
Dengan harga tiket masuk yang terjangkau, sekitar Rp5.000, Waduk Pacal selalu ramai dikunjungi saat akhir pekan dan hari libur. Keasrian alam dan suasana yang tenang menjadikan tempat ini pilihan tepat untuk berwisata bersama keluarga. (*)