HARIAN DISWAY - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan hasil pembicaraan terbarunya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin, 23 Maret 2026.
Dalam sebuah pernyataan video, Netanyahu menyebut bahwa Trump melihat adanya peluang besar untuk mengubah pencapaian militer AS dan Israel di Iran menjadi sebuah kesepakatan negosiasi yang mampu melindungi kepentingan vital Israel.
"Presiden Trump percaya ada kesempatan untuk memanfaatkan pencapaian luar biasa IDF dan militer AS guna mewujudkan tujuan perang dalam sebuah perjanjian—perjanjian yang akan menjaga kepentingan vital kami," ujar Netanyahu.
Meskipun diplomasi mulai terbuka, Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer tidak akan berhenti. Ia menyatakan bahwa serangan terus berlanjut baik di Iran maupun Lebanon untuk melumpuhkan program rudal dan nuklir Teheran, serta memberikan hantaman hebat bagi Hezbollah. "Baru beberapa hari yang lalu kami melenyapkan dua lagi ilmuwan nuklir (Iran), dan ini bukanlah akhir," tegasnya.
BACA JUGA:Donald Trump Melunak, Siap Akhiri Perang Iran
BACA JUGA:Iran Tantang Balik Gertakan Trump: Siap Ratakan Infrastruktur AS di Timur Tengah
Pernyataan Netanyahu ini muncul tak lama setelah Trump mengumumkan dalam sebuah unggahan di Truth Social tentang adanya pembicaraan yang "sangat baik" dengan seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya.
Dalam akun media sosialnya, Trump akui telah melakukan negosiasi dengan Iran setelah penyerangan pertamanya pada 28 Februari 2026 lalu.-truth @realDonaldTrump -
Langkah diplomasi mendadak ini terjadi hanya beberapa jam sebelum berakhirnya deadline 48 jam ultimatum Trump kepada Teheran untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz, dengan ancaman penghancuran pembangkit listrik Iran jika permintaan tersebut diabaikan.
Laporan dari media Axios, mengutip pejabat Israel, menyebutkan bahwa sosok yang menjalin komunikasi dengan Trump adalah Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran. Ghalibaf merupakan salah satu tokoh non-ulama paling menonjol di Teheran, meskipun ia sempat membantah adanya negosiasi yang sedang berlangsung melalui unggahan di media sosial X.
BACA JUGA:Respons Klaim Akhir Perang Iran, Harga Saham Naik, Minyak Turun
BACA JUGA:Fasilitas Nuklir Dimona Israel Dihajar Rudal Iran, Netanyahu Bersumpah Kejar Para Petinggi IRCG
Keputusan Trump untuk menunda ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran dikabarkan membuat negara-negara teluk tetangga Iran bisa bernafas lega. Sebelumnya, Teheran menyatakan jika AS-Israel menyerang fasilitas listrik negeri tersebut, mereka bersumpah akan membalas dengan menyebar ranjau laut di perairan teluk serta menyerang infrastruktur listrik dan air di seluruh Timur Tengah.
Analis keamanan dan mantan pakar intelijen Israel, Danny Citrinowicz, menilai bahwa Trump memilih mundur karena memahami risiko serangan balasan yang signifikan dari Iran.
Kendati demikian, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Ribuan marinir AS dilaporkan tengah menuju Timur Tengah untuk memperkuat kehadiran militer Amerika, menyusul spekulasi mengenai kemungkinan operasi darat untuk mengamankan aset minyak Iran atau membuka paksa Selat Hormuz secara permanen.(*)