Mohammad Bagher Ghalibaf Bantah Sedang ada Negosiasi Damai dengan Amerika Serikat
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah sedang ada negosiasi dengan AS tentang resolusi perang Iran-AS-Tasnim News Agency-
HARIAN DISWAY - Iran membantah tengah melakukan negosiasi dengan pihak Amerika Serikat (AS). Hal ini merespon unggahan Trump di Truth Social pada Senin, 23 Maret 2026 kemarin.
Dalam unggahan tersebut, Trump mengatakan bahwa pihaknya telah terlibat pembicaraan yang "sangat baik dan produktif" dengan salah seorang pejabat di republik Islam Iran selama dua hari terakhir untuk resolusi total permusuhan di Timur Tengah.
Trump mengatakan pemerintahannya sedang berbicara dengan seorang "tokoh utama" yang tidak disebutkan identitasnya, seraya memperingatkan jika pembicaraan gagal dalam lima hari ke depan "kami akan terus melakukan pengeboman sepuas hati kami."
Langkah diplomasi mendadak Trump ini memicu spekulasi mengenai sosok di balik layar dari pihak Iran. Media Axios, mengutip pejabat Israel, menyebut nama Mohammad Bagher Ghalibaf—Ketua Parlemen Iran—sebagai lawan bicara Trump. Namun, Ghalibaf segera membantah adanya negosiasi yang berlangsung melalui unggahan di platform X.
BACA JUGA:Negosiasi Berjalan, Trump Akan Jeda Serangan ke Iran, Netanyahu Bilang Lanjut!
BACA JUGA:Netanyahu Menelepon Trump Pasca Kabar 'Negosiasi' AS-Iran, Minta Kepentingan Israel Diperhatikan
"Tidak ada negosiasi yang "tengah" dilakukan dengan AS, dan berita bohong (fakenews) digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta melarikan diri dari kubangan di mana AS dan Israel terjebak," katanya lewat sebuah cuitan di X.
Media AS, Axios, melaporkan bahwa negosiator AS Steve Witkoff dan Jared Kushner kemungkinan akan bertemu dengan delegasi Iran untuk pembicaraan di Pakistan segera minggu ini, dengan kemungkinan Wakil Presiden JD Vance ikut bergabung.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt tidak membantah laporan tersebut, dengan menyatakan "spekulasi mengenai pertemuan tidak boleh dianggap final sampai diumumkan secara resmi oleh Gedung Putih.
BACA JUGA:Respons Klaim Akhir Perang Iran, Harga Saham Naik, Minyak Turun
BACA JUGA:Donald Trump Melunak, Siap Akhiri Perang Iran
Media Iran Tasnim menyebut bahwa seorang pejabat keamanan senior di internal Republik Islam mengatakan bahwa Trump "mengkeret" menghadapi ancaman balasan dari Iran yang menargetkan berbagai infrastruktur vital di Timur Tengah.
Sumber tersebut menjelaskan bahwa tekanan dari pasar keuangan serta ancaman terhadap obligasi di AS dan Barat telah meningkat, yang ia gambarkan sebagai faktor signifikan lainnya di balik melunaknya Trump.
Sumber tersebut juga mengatakan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung atau pun telah terjadi. Sembari menambahkan bahwa dengan kondisi perang urat syaraf saat ini, Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang, begitu pula stabilitas di pasar energi tidak akan tercipta.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: