Menebak-nebak Petinggi Iran yang Diklaim Trump Berdialog dengan AS: Figur Penting dengan Akses Diplomasi

Rabu 25-03-2026,14:03 WIB
Reporter : Doan Widhiandono
Editor : Noor Arief Prasetyo

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memang seperti melempar bola panas. Senin, 23 Maret 2026, Trump mengklaim sedang berunding dengan Iran. Dialog itu dilakukan dengan salah seorang petinggi Iran. Siapa?

DONALD Trump memang memberi ’’petunjuk.’’ Tapi, petunjuk itu sangat kabur untuk bisa benar-benar jadi petunjuk. Dan Trump memang seperti membuka ruang tafsir yang beragam di tengah situasi perang yang belum stabil.

Kata Trump, sosok itu adalah salah satu orang yang paling dihormati di Iran. Tetapi, orang itu dalam posisi sulit. Sehingga, Trump memilih untuk merahasiakan namanya.

‘’Saya tidak ingin ia terbunuh,’’ ucapnya seperti dikutip Agence France-Presse, Selasa, 24 Maret 2026.

BACA JUGA:Adu Narasi Donald Trump dan Iran tentang Akhir Perang: Klaim Segera Berakhir untuk Tenangkan Pasar

BACA JUGA:Donald Trump Melunak, Siap Akhiri Perang Iran

Yang terang, situasi di Iran memang masih genting. Negeri itu seperti benar-benar menjaga kabar tentang pucuk pimpinan negara. Betapa tidak, pemimpin tertinggi Ali Khamenei tewas di awal perang pada 28 Februari. Kepala Dewan Keamanan nasional Ali Larijani menyusul tewas dalam serangan Israel. Sementara penerusnya, Mojtaba Khamenei, belum tampil ke publik.

Nah, dalam kondisi itu, muncul spekulasi tentang nama-nama yang berpotensi menjadi penghubung dengan AS. Untuk—menurut versi Trump—bernegosiasi agar perang berakhir.

Berikut ini nama-nama mereka.

Mohammad Bagher Ghalibaf

Ia disebut sebagai figur paling fungsional di lapangan. Nama Ghalibaf paling banyak disebut analis sebagai pemimpin de facto di masa perang. Posisinya tidak resmi, tetapi terbentuk karena kekosongan di level atas.

Rekam jejaknya relatif lengkap. Ia pernah menjadi komandan pasukan dirgantara Garda Revolusi, kepala polisi Teheran, wali kota Teheran, hingga kini menjabat ketua parlemen. Kombinasi sipil-militer itu membuatnya punya akses lintas institusi.


Mohammad Bagher Ghalibaf.--

Namun, Ghalibaf sendiri membantah keras laporan media Israel yang menyebut dirinya berkomunikasi dengan AS. Ia menyebut informasi itu sebagai fake news. Kabar bohong. Sebab, selama ini memang tidak ada negosiasi dengan AS.

Sejumlah analis menyebut bahwa ambisi politik Ghalibaf sebenarnya sudah lenyap. Ia tiga kali gagal dalam pencalonan presiden. Selain menunjukkan kapasitas politik, fakta itu juga menggarisbawahi keterbatasan elektoralnya.

Kategori :