SURABAYA, HARIAN DISWAY-Produsen mobil listrik kini tak hanya perang harga guna merebut pasar. Efektivitas produk seperti kecepatan pengisian daya jadi senjata bagi produsen menarik konsumen.
Tiga empat tahun lalu, waktu mengisi daya mobil listrik (EV) adalah hal yang paling menggelisahkan bagi pemilik. Menguji kesabaran. Harus menunggu sekitar satu jam untuk bisa mengisi penuh daya baterai. Bandingkan dengan isi BBM yang tak sampai lima menit.
Saat itu, wajar pemilik mobil khawatir. Stasiun pengisian masih sangat terbatas.
Dan keluhan sebagian besar pemilik mobil itu mulai diperhatikan oleh industri beberapa tahun belakangan ini. Produsen mulai berpikir lebih dalam agar produknya laku.
Mobil listrik bukan sekadar pamer desain aerodinamis, akselerasi, atau irit ongkos. Tapi juga soal kepraktisan dan efektif waktu penggunaan. Terutama waktu untuk pengisian daya.
BACA JUGA:BYD Gelar Test Drive Surabaya-Malang untuk Atto 1, Tempuh 220 Km Tanpa Isi Daya
BACA JUGA:Ini Daftar Mobil Listrik Termurah 2026, Harga di Bawah Rp200 Jutaan
Awal Maret, raksasa mobil listrik Tiongkok, BYD mengeluarkan seri terbarunya, Seal 07 EV. Mobil dengan teknologi flash charging 1.500 kW. Mampu menambah jarak tempuh hingga 400 kilometer hanya dalam 5 menit pengisian daya.
Dalam laman resminya, teknologi flash charging itu dikembangkan oleh BYD untuk menjawab tantangan akan mobil listrik. ”Terutama kecepatan pengisian daya yang lambat dan kinerja pengisian daya suhu rendah yang buruk,’’ kata Presiden BYD Wang Chuanfu dalam laman BYD, Rabu, 25 Maret 2026.
Selain BYD, pabrikan Tiongkok lain, Geely juga mengeluarkan produk dengan waktu pengisian cepat tahun lalu. Zeekr 001 diklaim mampu mengisi daya baterai 10-80 persen hanya dalam waktu 7 menit.
Sementara di rentang 11-20 menit pengisian daya, tercatat setidaknya ada lima merek mobil yang tersedia di pasaran. Termasuk pabrikan Korea Selatan, Hyundai, yang telah meluncurkan Ioniq 6 dan Ioniq 5 N dengan pengisian daya hingga 18 menit.
Persaingan merebut siapa yang tercepat dalam mengisi daya dalam mobil listrik itu juga dicermati oleh Pengamat Otomotif Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) Alief Wikarta. Ia menyebut langkah produsen mobil listrik itu sebagai upaya merebut pasar. Bukan lagi sebagai pengenalan produk.
”Produsen mobil listrik ingin pengguna mobil konvensional beralih,” kata Alief kepada Harian Disway, Rabu, 25 Maret 2026. Karena fasenya sudah merebut pasar, maka produsen ingin melakukan penyesuaian kebiasaan pengguna mobil berbahan bakar bensin. Salah satunya lewat pengisian daya yang semakin dipersingkat itu.
Produsen mobil listrik seperti ingin memantau dengan lebih dalam perilaku pengguna mobil konvensional. Salah satunya waktu tunggu mereka mengisi bahan bakar.