INDONESIA memiliki kekayaan keanekaragaman hayati dan nonhayati terbesar di dunia. Menurut pusat keanekaragaman hayati laut dunia (Fishbase), Indonesia memiliki 4.605 spesies ikan bersirip yang terdiri atas 1.193 spesies ikan air tawar, 3.496 spesies ikan air laut, 104 spesies ikan pelagis, dan 310 spesies ikan perairan dalam.
Kekayaan keanekaragaman hayati merupakan aset bagi pembangunan dan kemakmuran bangsa. Meski demikan, meningkatnya kebutuhan pangan manusia dan tekanan terhadap lingkungan mengakibatkan terjadinya penurunan populasi hingga hilangnya beberapa biota perairan.
Beberapa biota air tawar yang hidup di danau-danau Indonesia terancam punah.
Misalnya, ikan gobi sarasin (Mugilogobius sarasinorum), kepiting poso (Migmathelphusa olivacea), dan ikan bontinge (Adrianichthys oophorus) yang hidup di Danau Poso (Sulawesi Tengah); udang kardinal matano (Caridina dennerli) dan ikan padi (Oryzias matanensis) di Danau Matano (Sulawesi Selatan); Poropuntius tawarensis dan Rasbora tawarensis di Danau Laut Tawar (Aceh); serta beberapa ikan endemik perairan tawar lainnya.
BACA JUGA:PT Bhirawa Steel Tebar 4.000 Benih Ikan Nila di Kalimas Surabaya
Data menunjukkan bahwa danau-danau tersebut telah digunakan untuk budi daya ikan nila di keramba jaring apung karena tingginya permintaan pasar domestik dan ekspor dan optimalisasi pemanfaatan potensi perairan umum.
Ikan nila (Oreochromis niloticus) (Linnaeus 1758) merupakan spesies dari keluarga Cichlidae yang berasal dari Afrika (Albertson et al., 1999). Ikan tersebut diintroduksi ke Indonesia pada 1960-an.
Ikan nila saat ini menjadi satu di antara sepuluh spesies invasif di dunia karena penyebarannya yang tidak terkendali karena kemampuan reproduksinya di usia dini dan kemampuan rematurasi gonad yang cepat (2–4 minggu).
Ikan nila bersifat parental care (mengerami telur di mulut) sehingga benihnya memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi pada lingkugan perairan.
Ikan nila saat ini mendominasi di beberapa perairan umum di banyak negara seperti Indonesia, Tiongkok, Taiwan, Thailand, Australia, Amerika Serikat, dan Australia.
Budi daya ikan nila di keramba jaring apung memiliki potensi lepasnya ikan nila dan benihnya yang tinggi disebabkan jaring yang rusak atau kontruksi keramba yang tidak sesuai serta sengaja dilepaskan oleh pembudi daya.
Ada kecendrungan jumlah keramba jaring apung melebihi daya dukung lingkungan. Akibatnya, sisa pakan dan feses ikan dapat mengakibatkan penurunan kualitas air dan penyuburan (eutrofikasi) di perairan.
Ikan nila bersifat omnivora sehingga menjadi kompetitor bagi biota endemik. Meningkatnya jumlah keramba jaring apung di Danau Toba mengakibatkan penurunan populasi ikan asli. Juga, mengubah struktur komunitas perairan dan menciptakan spesies dominan baru.
Ikan nila dapat melakukan hibridasi dengan spesies ikan nila lokal (seperti mujair) yang dapat mengurangi kemurnian genetik spesies asli.
Bahaya invasif ikan nila yang dibudidayakan di keramba jaring apung dapat dihindari dengan beberapa hal berikut ini.