Tari tersebut tidak memiliki nama khusus. Tetapi tetap ada kolaborasi gerakan dari tiga gerakan daerah tersebut dengan olahraga.
“Secara genre musik, Banyuwangi dan Bali itu dekat. Jadi, transisi atau lonjakan musiknya tidak terlalu kontras. Tari dari Bali mirip dengan remo di bagian ketukannya,” ucap Ekky. Meski begitu, tetap ada sisi lembut dan tingkat kesulitan tersendiri.
BACA JUGA:Eksotika Bromo 2025 Hari Pertama, Tari Bungo Serangkai Kisahkan Tradisi Pengambilan Madu di Jambi.
Penampilan lainnya, seperti Keisya Artha Mevia, atlet 15 tahun dari SMP Giki 2 Surabaya dan Gladys Sheril Danasa, atlet 15 tahun dari Smp Giki 1 Surabaya membawakan perpaduan tari tradisional khas Jawa Timur, Kalimantan, dan Sunda.
Berdasarkan materi yang didapat selama latihan, tari tersebut menggambarkan Hudoq. “Mengisahkan tentang jiwa Kalimantan. Jiwa yang tak hanya terbatas pada kehalusan atau kelenturan semata. Namun, memiliki kekuatan tersendiri yang berbeda dari tarian Suku Dayak pada umumnya,” terang Keisya.
Persiapannya telah mereka lakukan sejak Ramadan. Keisya dan Gladys juga melakukan latihan jogging dan lari sprint untuk memperkuat fisik. Karena tarian yang dibawakannya mengandalkan kecepatan dan kekuatan.
Hari itu, tak hanya ada tari tradisional. Ada juga tari lainnya yang turut ditampilkan. Seperti tari hip-hop, solo rumba, dan lain-lain.
BACA JUGA:Acara Puncak Mbangunredjo Art Festival 2025, Tampilkan Kirab Budaya, Wayang, dan Tari
BACA JUGA:Rembugan Buku Ludruk UNESA, Lestarikan Budaya Jawa lewat Karya Sindhunata
Seleksi Atlet Pusat Pelatihan Cabang Olahraga Dance Sport Kota Surabaya tersebut juga sekaligus memperkenalkan kebudayaan Pun, mendukung anak-anak muda untuk mencetak prestasi. (*)