Kampung Batik Jetis, Sidoarjo memiliki sejarah panjang. Konon, leluhur pengrajin batik merupakan murid Mbah Rukhani, pengikut Pangeran Diponegoro. Pun, terselip jejak dakwah Islam dalam kegiatan membatik. Hal itu masih bisa didapati hingga kini.
Selain dikenal sebagai kampung batik, Jetis, Sidoarjo punya ikon lain. Yakni Masjid Jami' Al Abror. Diyakini masjid itu punya jejak sejarah ratusan tahun. Sebagai pusat dakwah Islam.
Konon, penyebaran agama di kawasan sekitar dilakukan oleh empat orang: KH Hasan Mukmin, Mbah Mulyadi, Mbah Arfani, dan Mbah Rukhani.
Itu dijelaskan oleh Afifuddin, sesepuh Kampung Jetis. Cerita turun-temurun tersebut bahkan masih lestari di kalangan warga dan pebatik setempat.
BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (1): Kampung Batik Jetis, Pebatik Muda Tinggal Satu-satunya
BACA JUGA:Kampung Sukolilo Guyub Selenggarakan Tradisi Kupatan 7 Syawal, Yang Sedang Lewat Juga Ikut Rebutan
Musala Nurul Anwar yang ada di Kampung Jetis Gang 3. Tempat ibadah itu diinisiasi oleh sosok Mbah Rukhani, pengikut Pangeran Diponegoro.-Boy Slamet-Harian Disway
"Kalau KH Hasan dan Mbah Arfani itu berfokus pada pengajaran agama Islam. Sedangkan Mbah Mulyadi mengembangkan perekonomian warga. Lalu Mbah Rukhani yang mengajar batik," ujarnya.
Keempatnya merupakan bekas pengikut Pangeran Diponegoro. Setelah melalui berbagai pertempuran, mereka tercerai-berai. Hingga menetap di Sidoarjo.
"Kalau untuk batik, Mbah Rukhani yang berjasa. Beliau pun menyebarkan agama Islam lewat kegiatan membatik," ungkapnya.
Sebagai orang dari Jawa Tengah, Mbah Rukhani memiliki kemampuan membatik. Lalu mulai mengajarkan keahlian itu pada satu orang. Yakni Mbah Yai Kosim, orang asli Jetis.
BACA JUGA:Mengakar untuk Tumbuh, Mbangunredjo Art Festival Suguhkan Performance Art di Jalanan Kampung
BACA JUGA:Rayakan Imlek 2026, Kampung Tambak Bayan Sajikan Penampilan Tari Lintas Budaya
Lantas kemampuan itu semakin menyebar. Perlahan tapi pasti, banyak pengrajin batik bermunculan. Kampung Jetis pun jadi lebih hidup dengan kegiatan membatik.
Namun, ada syarat khusus yang diminta olehnya: tiap gang di Kampung Jetis harus didirikan langgar atau musala.
Tujuannya, langgar itu sebagai tempat berkumpul para pengrajin. Bisa pula mengerjakan batik di tempat itu. Yang tak kalah penting: ingat salat.