Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (1): Kampung Batik Jetis, Pebatik Muda Tinggal Satu-satunya

Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (1): Kampung Batik Jetis, Pebatik Muda Tinggal Satu-satunya

Ratna Chabiba mengguratkan canting di atas kain batik berwarna merah pekat. Warna-warna cerah mendominasi produk-produk Batik Namiroh di Kampung Batik Jetis, Sidoarjo.-Boy Slamet-Harian Disway

Sidoarjo punya berbagai kampung khas. Ada yang masih eksis. Ada pula yang kembang kempis. Salah satunya Kampung Batik Jetis. Kampung yang pernah memiliki nama besar. Sekaligus diyakini sebagai salah satu pusat persebaran agama Islam di Sidoarjo. Kini, bagaimana kondisi kampung itu? Simak penelusuran Harian Disway.

Pintu masuk Kampung Batik Jetis ditandai dengan gapura cukup besar. Berisi tulisan yang menandai identitas kampung tersebut. Seperti namanya, terdapat di daerah Jetis, Sidoarjo. Kawasan yang cukup ramai. 

Jalur masuk sebelah timur terdapat pasar. Di bagian depan berdiri Masjid Jami' Al Abror. Sedangkan jalur sebelah barat merupakan jalan raya Diponegoro. Di seberangnya berdiri Stasiun Sidoarjo Kota.

Memasuki Kampung Batik Jetis, terdapat mural di sisi kanan jalan bagian depan. Menunjukkan aktivitas membatik yang diakrabi warga kampung.

BACA JUGA:Bosan Motif Batik Biasa? Coba Digital Batik untuk Baju Lebaran Pria 2026

BACA JUGA:Rona-Rona Karir dan Kehidupan Penyandang Disabilitas di Jawa Timur (4): Batik Ciprat, Cipta Karya Disabilitas


Mural aktivitas membatik di Kampung Batik Jetis, Sidoarjo. Mural itu kian memudar. Seperti eksistensi para pebatik di kampung tersebut.-Boy Slamet-Harian Disway

Membatik dipercaya telah lestari selama ratusan tahun. Namun, kondisi mural itu telah memudar. Seperti nasib para pebatik di sana.

Di kampung tersebut juga terdapat banyak musala. Bahkan berdiri di tiap gang. Ada kisah tersendiri terkait itu.

Kini, yang jelas Kampung Batik Jetis mulai kesulitan mencari penerus. Satu-satunya pebatik muda di kampung itu adalah Rinaldi Kurnia. Sisanya telah sepuh. Anak-anak mereka banyak yang enggan meneruskan usaha.

Berbeda dengan Rinal. Baginya, meneruskan usaha batik adalah sebuah kewajiban. "Kalau bukan kita, siapa lagi?" ujarnya. Batik Namiroh, nama usahanya, adalah satu dari lima usaha batik yang tersisa di Jetis.

BACA JUGA:BRI Bina Kain Indonesia by Shifara, UMKM Batik Lokal Bangkit Lewat Koleksi Office Wear

BACA JUGA:Bunda Ani Ajak Anak Cintai Budaya Lewat Fashion Show Batik

Ya, hanya tinggal lima. Kembang kempis. Empat usaha dipastikan punah jika tak ada penerus. Misalnya, di suatu titik Rinaldi enggan meneruskan, atau anak-anaknya kelak tak mau peduli, maka habislah para pebatik di Jetis. Cerita ratusan tahun berakhir sebagai kenangan. Tinggal sejarah.


Proses melorot malam yang dilakukan oleh Ma'ruf, salah seorang karyawan Batik Namiroh di Kampung Batik Jetis, Sidoarjo.-Boy Slamet-Harian Disway

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: harian disway