BACA JUGA:Mbangunrejo Art Festival 2025, Berbagai Pentas Seni Tampilkan Wajah Baru Kampung Bangunrejo
"Kami bisa menggunakan teknik batik cap. Khusus soal kuantitas. Harganya memang sedikit lebih mahal daripada batik printing. Tapi soal kualitas jauh lebih unggul," ujar ayah dua anak itu.
Itulah persoalan pelik di sekitar Kampung Batik Jetis. Para pebatik menanti kepunahan. Tinggal menunggu waktu. Sangat disayangkan. Mengingat nama besar kampung tersebut pada masa lalu.
Salah satu cerita yang berkembang, Fatmawati Soekarno, ibu negara pertama di Indonesia, adalah pelanggan Batik Jetis.
"Selalu pesan di sini. Terutama soal selendang batik. Kata sesepuh-sesepuh kampung, Bu Fatmawati bilang jika tak mengenakan selendang Jetis, rasanya kurang pas," ujar Rinal.
Nurul Farida, karyawati Batik Ny. Wida melakukan proses mencanting. Batik Ny. Wida tetap berproduksi meski situasinya sedang sulit.-Boy Slamet-Harian Disway
BACA JUGA:Peluncuran Buku Seribu Gagasan Omah Ndhuwur, Hadirkan Perspektif Kritis tentang Kampung Bangunrejo
BACA JUGA:Jeritan Kampung Dupak Bangunrejo Lewat Drama Monolog Sangkan Paran: Jantung Tanpa Hati
Kini, yang tersisa tinggal ironi. Pebatik terus berproduksi. Tapi keuntungan yang didapat minim sekali. Pelanggan tetap masih ada. Tapi jumlahnya tetap. Itu-itu saja. Tak bertambah. Malah berkurang.
Semakin terpukul dengan tren batik printing sak slegrengan. Harga murah, kualitas payah. Dikenakan sebulan dua bulan sudah luntur.
Sudah jatuh tertimpa tangga. Jika tak ada tindak lanjut, publik hanya akan mengenalnya sebagai sekadar cerita. (*)
*) Sentra Kulit Tanggulangin dan nasibnya kini, baca seri selanjutnya...