Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (5): Kampung Batik Jetis Tunggu Waktu Menuju Punah

Sabtu 04-04-2026,09:00 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Guruh Dimas Nugraha

Saat kanak-kanak, Rinal pun kerap bermain di sungai itu. "Tapi kami tidak pernah mengalami sakit kulit atau sakit apa pun. Meski tiap hari banyak pebatik berproses di situ," ujarnya.


Petrus Dwi, generasi ketiga pengelola Batik Ny. Wida. Ia membawa kaleng pewarna kain berkualitas. Petrus menyebut dirinya generasi terakhir yang mengelola usaha tersebut.-Boy Slamet-Harian Disway

BACA JUGA:BRI Sukseskan Desa BRILiaN, Kampung Koboi Tugu Selatan Melejit di Bogor

BACA JUGA:Kampung Sukolilo Guyub Selenggarakan Tradisi Kupatan 7 Syawal, Yang Sedang Lewat Juga Ikut Rebutan

Berbeda dengan sekarang. Limbah sungai itu sudah bercampur dengan limbah pabrik, rumah tangga, dan semacamnya. Itu membuat kualitas airnya buruk.

"Salah satu yang disalahkan adalah pebatik. Padahal dulu tidak masalah," keluh pria 37 tahun itu. Kini, para pebatik membuang limbahnya di selokan yang ada di kawasan masing-masing. Mereka kerap mendapat teguran.

Petrus mengatakan, "Pernah pegawai Dinas Lingkungan Hidup datang ke tempat kami. Menyoal limbah. Mau seperti apa? Dari dulu memang begini kalau soal limbah." 

"Kalau mau teratur dan aman, ya dibantu dong. Jangan hanya ditegur-tegur saja. Misalnya, pemerintah bisa membuatkan sistem pembuangan limbah," sahut Rinal. 

BACA JUGA:Mengakar untuk Tumbuh, Mbangunredjo Art Festival Suguhkan Performance Art di Jalanan Kampung

BACA JUGA:Rayakan Imlek 2026, Kampung Tambak Bayan Sajikan Penampilan Tari Lintas Budaya


Sarana produksi batik di halaman belakang Batik Ny. Wida. Dulu, usaha itu pernah punya nama besar.-Boy Slamet-Harian Disway

Memang repot. Di satu sisi, membuang limbah batik dianggap bisa mengganggu lingkungan. Tapi di sisi lain, kebiasaan itu berlangsung turun-temurun.

Apalagi berkaitan dengan penghasilan. Mereka hidup dari batik. Mendapat pemasukan dari produk-produk batik.

Selain limbah, pemerintah seharusnya bisa membantu meningkatkan penghasilan mereka. Rinal mengusulkan, "Misalnya, pemerintah bisa mewajibkan pesanan seragam batik di Kampung Jetis. Lima pengrajin di kampung ini bisa mengerjakan proyek itu. Kalau itu terlaksana, perputaran uang di kampung ini bisa jalan."

Mungkin saja pemerintah enggan. Karena produk batik di Jetis harganya mahal. Tentu karena kualitasnya tidak main-main. Tapi itu bisa diatasi dengan cara khusus.

BACA JUGA:Kampung Pecinan Tambak Bayan Bersolek Sambut Imlek 2026, Susun Lini Masa Autentik

Kategori :