'I Can Change My Mind in Seconds,' Katastrofe Donald Trump?

Sabtu 04-04-2026,05:33 WIB
Oleh: Ahmad Setyono*

Dari perspektif komunikasi, gaya komunikasi Trump bisa jadi merupakan apa yang disebut Erving Goffman (1974) sebagai framing. Bagaimana individu mengorganisasi, menginterpretasikan, dan memberikan makna pada pengalaman hidup sehari-hari melalui ”bingkai” (frames) atau kerangka interpretasi. 

Goffman menyatakan, manusia menggunakan primary framework, baik natural maupun sosial untuk melokalisasi, memahami, dan memberikan label kepada peristiwa. Dalam kasus perang versus Iran, Trump memaknai aksi, strategi, dan dampak serangan itu sesuai kerangka pikirnya. 

Tak heran, narasi ”militer AS hampir menyelesaikan tujuan perangnya melawan Iran dan kekuatan militer Iran telah dihancurkan” sering dilontarkan Trump di berbagai forum.

Dalam kerangka realitas media, narasi yang keluar adalah sesuai kepentingan elite dan dalam konstruksi drama, narasi mengaburkan realitas kontekstual yang mendasarinya. 

Kalau kita lihat realitas di Timur Tengah, kerusakan pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah –termasuk infrastruktur radar dan intelijen yang hancur lantaran diserang rudal Iran atau kehancuran Tel Aviv dan kota-kota lain di Israel– barangkali diabaikan. 

Juga, menghadapi publik Amerika Serikat yang memprotes perang dan approval ratings yang menurun seolah tak berarti bagi Trump. 

Dalam pidato kenegaraan Rabu malam waktu setempat (2 April 2026), Trump kembali menegaskan AS telah menghancurkan Angkatan Laut dan Angkatan Udara Iran. Serta, melumpuhkan program rudal balistik dan nuklir Iran. 

AS akan terus menyerang target di Republik Islam Iran selama dua tiga minggu ke depan. (*)


*) Ahmad Setyono adalah jurnalis dan magister komunikasi Univiversitas Paramadina.

 

Kategori :