Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (7): Kampung Tas Tanggulangin, Eksis Meski Terhimpit

Senin 06-04-2026,09:00 WIB
Reporter : Amelia Puspa Ningrum*
Editor : Guruh Dimas Nugraha

Ia pinjam modal. Uang itu digunakan untuk berbagai kebutuhan. Seperti pengadaan bahan hingga gaji karyawan. 

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (2): Kampung Batik Jetis, Musala Tiap Gang dan Jejak Dakwah Islam

BACA JUGA:Kampung-Kampung Ikonik Sidoarjo (1): Kampung Batik Jetis, Pebatik Muda Tinggal Satu-satunya

“Kalau sekarang, saya fokus pada produksi saja. Order masih ada dari pelanggan-pelanggan tetap saya,” kata pria 45 tahun itu.

Dia menjual produknya ke berbagai pemilik usaha tas besar. Juga pebisnis online shop. Selalu mengikuti kebutuhan dan tren pasar. 

Pesanannya datang dari berbagai daerah. Seperti Gempol, Surabaya, hingga beberapa wilayah di Jawa tengah dan Jawa Barat. 

Hari itu, Irawan sedang memproduksi salah satu tas wanita berwarna hitam. Sekilas, modelnya mirip dengan salah satu brand Channel. Kualitas kurang lebih sama. Tapi tas produksinya dibanderol dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

BACA JUGA:Rayakan Imlek 2026, Kampung Tambak Bayan Sajikan Penampilan Tari Lintas Budaya

BACA JUGA:Kampung Pecinan Tambak Bayan Bersolek Sambut Imlek 2026, Susun Lini Masa Autentik

Proses produksinya dimulai dari pemotongan bahan. Menggunakan penggaris dan cutter khusus. Kedua, tahap pengeleman. Sekitar lima orang mengerjakan proses itu. Bahan tas yang sudah di lem, kemudian dilipat. 

Selanjutnya, mengerjakan badan tas. Seluruh proses itu dilakukan di ruang belakang. Setelah badan tas terbentuk, bahan di bawa ke depan untuk dijahit. Setelah semua tahapan dijalankan, tas kembali ke dapur belakang untuk proses finishing

Tiga orang perempuan menangani proses itu. Mulai dari membersihkan sisa benang, memasang tali, hingga merapikan aksesoris tas. Seluruh aktivitas produksi itu ada di atas lahan 27,5 x 10 meter milik Irawan. 

Tak jauh dari sana, di Jalan Kedensari RT 17, Tanggulangin, Sidoarjo, ada pengusaha lain yang bertahan. Ialah Wawan Karyawan. Pemilik Toko Karya Tunggal. Selain wiraswasta, ia juga bergabung di Asosiasi Pengrajin Kulit (ASPEK) Jawa Timur. 

BACA JUGA:Mbangunrejo Art Festival 2025, Berbagai Pentas Seni Tampilkan Wajah Baru Kampung Bangunrejo

BACA JUGA:Peluncuran Buku Seribu Gagasan Omah Ndhuwur, Hadirkan Perspektif Kritis tentang Kampung Bangunrejo

Ruangannya tidak terlalu besar. Di dalamnya tersusun tas wanita, sabuk, beberapa koper, dan dompet yang tertata rapi di etalase kaca. Di samping ruangan, ada sofa kecil untuk tamu.

Kategori :