Keperkasaan Penyakit Campak

Senin 06-04-2026,07:33 WIB
Oleh: Dominicus Husada*

Kali ini yang terkena adalah otak dan sistem persarafannya sehingga penderita akan mengalami kejang berulang yang semakin lama semakin berat hingga kematian tiba. Angka kematian untuk rintangan ketiga itu sangat tinggi dan bahkan di beberapa tempat mencapai 100 persen.

Yang menggiriskan juga adalah campak tidak mempunyai antivirus yang mujarab. Hingga hari ini pengobatan campak bertumpu pada kemampuan tubuh menahan infeksi. Tenaga medis akan menyesuaikan tata laksana dengan kondisi pasien, tetapi tanpa antivirus. 

Pemberian vitamin A sangat membantu sistem kekebalan, tapi tidak mampu secara langsung membunuh virus campak. 

Vitamin A juga bukan pencegahan khusus terhadap campak. Vitamin itu bisa menjadi lebih bermanfaat pada orang yang memang sudah mengalami kekurangan vitamin A (dan di Indonesia kelompok itu sangat banyak).

Aspek negatif lain adalah kemampuan menular pada orang lain. Penyakit campak mempunyai basic reproduction number mencapai 19. Angka itu diartikan sebagai satu penderita menulari berapa orang. 

Bandingkan dengan virus penyebab Covid-19 varian Wuhan yang hanya 2, meningkat menjadi 6 saat varian Delta mengganas, dan akhirnya menjadi 12 ketika Omicron tiba. 

Bisa dibayangkan jika ada 1 saja penderita campak, kecepatan menyebar akan sangat tinggi dan merepotkan, seperti juga yang terjadi pada semua penyakit yang ditularkan melalui saluran pernapasan.

Untunglah alam selalu mempunyai keseimbangannya. Ada beberapa hal pada penyakit campak yang relatif menguntungkan kita. 

Pertama, virus campak tidak bisa pindah ke makhluk hidup selain manusia. Hal itu akan mempermudah upaya eradikasi. 

Kedua, penyakit campak terjangkit hanya sekali pada seseorang, pada boleh dibilang semua kasus. Tertular lebih dari sekali sangat langka dan biasanya ada faktor pendukung lain yang memungkinkan. 

Aspek ketiga, kekebalan setelah sakit campak bersifat permanen. Antibodi memang akan makin turun sejalan dengan berlalunya waktu, tetapi pada umumnya masih sanggup menahan penularan. Tentu juga ada satu dua kasus langka yang tidak mengikuti ketentuan itu.

Keempat, seseorang mengalami sakit campak hanya dalam waktu singkat sekitar 2–3 pekan. Jika tidak terjadi komplikasi, campak tidak menimbulkan penderitaan dalam jangka waktu panjang. 

Kelima, yang mungkin paling penting, saat ini dunia mempunyai vaksin yang sangat efektif untuk mencegah campak. Vaksin itu akan menjadi modal utama program penghilangan campak sebagaimana sudah ditunjukkan pada 3 penyakit pendahulunya. 

Vaksin campak mengalami beberapa kali perkembangan, baik dari jenis maupun pelaksanaan di lapangan. Kemajuan besar dicapai sejak 1954, ketika John Enders dan Thomas Peebles berhasil mengisolasi virus itu. 

Enders adalah pemenang Nobel untuk pekerjaannya pada virus polio yang juga membuka jalan untuk campak. Vaksin campak menggunakan virus hidup dilemahkan dengan beragam varian, mulai yang terkuat hingga yang relatif lemah. 

Dahulu pernah ada vaksin campak mati (inactivated), tetapi dihentikan setelah banyak terjadi efek samping. Indonesia di masa lalu memakai vaksin dengan varian yang relatif bukan yang terkuat karena kewaspadaan akan efek samping. 

Kategori :