HARIAN DISWAY - Di tengah era media sosial yang serba terbuka, kesuksesan seseorang kini semakin mudah terlihat.
Mulai dari pencapaian karier, gaya hidup, hingga prestasi pribadi. Semuanya kerap terpampang jelas di layar ponsel.
Namun di balik itu, muncul fenomena psikologis. Dikenal dengan Tall Poppy Syndrome. Anda sudah tahu, itu merupakan kecenderungan merasa iri.
Atau seseorang yang diliputi keinginan untuk “menjatuhkan” orang lain. Khususnya mereka yang dianggap lebih sukses.
BACA JUGA:Mengenal Impostor Syndrome dan Budaya Rasa Bersalah
BACA JUGA:Main Character Syndrome, Selebrasi atau Delusi
Istilah Tall Poppy Syndrome berasal dari analogi bunga poppy yang tumbuh lebih tinggi dari yang lain. Hingga kemudian “dipangkas” agar sejajar.
Dalam konteks sosial, fenomena itu menggambarkan sikap tidak nyaman melihat orang lain menonjol. Sehingga muncul dorongan untuk merendahkan, mengkritik berlebihan, atau mengecilkan pencapaian mereka.
Daripada iri, mending jadikan pencapaian orang lain sebagai motivasi.--pinterest
Fenomena itu tidak selalu muncul secara terang-terangan. Dalam banyak kasus, Tall Poppy Syndrome hadir secara halus.
Seperti komentar sinis, candaan yang meremehkan, atau perasaan tidak suka tanpa alasan yang jelas. Bahkan, sering kali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami hal tersebut.
BACA JUGA:Second Lead Syndrome, Alasan Seseorang selalu Jatuh Hati ke Tokoh Cadangan dalam Film
BACA JUGA:Mengenal Peter Pan Syndrome, Orang Dewasa yang Sulit jadi Dewasa
Media sosial menjadi salah satu pemicu utama. Paparan konten yang menampilkan “versi terbaik” kehidupan orang lain dapat memicu perbandingan sosial.
Ketika seseorang merasa tertinggal, rasa iri perlahan tumbuh. Lalu memengaruhi cara pandangnya terhadap kesuksesan orang lain.
Dampaknya tidak hanya pada hubungan sosial. Tetapi juga kesehatan mental. Perasaan iri yang terus dipendam bisa memicu stres, rendah diri, hingga menurunnya rasa percaya diri.
Di sisi lain, orang yang menjadi “target” juga bisa merasa tertekan. Seolah kesuksesan mereka tidak diterima dengan baik oleh lingkungan sekitar.
BACA JUGA:Kegemaran Memelihara Anjing atau Kucing Bisa Mengungkap Sisi Psikologis Pemeliharanya
BACA JUGA:Dampak Psikologis Paparan Berita Perang dan Cara Mengatasinya
Kesuksesan orang lain bukan ancaman jangan sampai iri diam-diam makan hati. --pinterest
Para ahli menyarankan untuk mengelola emosi tersebut dengan cara yang lebih sehat. Salah satunya adalah dengan mengubah sudut pandang.
Lihatlah kesuksesan orang lain sebagai inspirasi. Bukan ancaman. Selain itu, penting untuk fokus pada proses dan pencapaian diri sendiri. Tanpa terus-menerus membandingkan dengan orang lain.
Membangun empati dan kebiasaan memberi apresiasi. Itu bisa menjadi langkah sederhana untuk mengurangi Tall Poppy Syndrome.
Karena pada akhirnya, kesuksesan bukanlah kompetisi siapa yang paling tinggi. Melainkan perjalanan masing-masing individu.
BACA JUGA:Sisi Psikologis Mengapa Manusia Cenderung Tidak Menyukai Perubahan
BACA JUGA:Trauma Medusa: Ketika Luka Psikologis Membatu di Dalam Diri
Di era yang penuh perbandingan ini, menjaga kesehatan mental dan sikap positif menjadi tantangan tersendiri.
Jangan sampai rasa iri diam-diam justru menghambat kita untuk berkembang dan menikmati proses hidup itu sendiri. (*)
*) Mahasiswa magang dari Prodi Akidah dan Filsafat Islam, UINSA.