RATA-RATA waktu tidur orang dewasa delapan jam per hari. Ternyata, durasi yang nyaris sama dihabiskan untuk menatap layar (screen time): 7,5 jam per hari. Sisanya anggap saja untuk bekerja atau bersosialisasi.
Artinya, hampir tak ada waktu untuk merenung, apalagi menyelami keheningan. Dalam hidup yang serbagegas ini, ”to do nothing” pun menjadi sesuatu yang mewah atau langka.
Hartmut Rosa, sosiolog asal Jerman, menyebut fenomena tersebut sebagai percepatan sosiokultural (social acceleration). Teknologi, transportasi, dan komunikasi bergerak melampaui kapasitas biologis manusia untuk memprosesnya secara reflektif.
Tentu saja hidup menjadi lebih mudah. Namun, juga gampang melelahkan dan bikin stres. Bahkan, ada yang lebih gelap dari itu semua. Yakni, lenyapnya kemampuan atau kedaulatan kita atas ”detik yang kosong”.
BACA JUGA:Mengapa Orang Dewasa Juga Mengalami Overstimulasi?
BACA JUGA:Manfaat Cryo Stimulasi sebagai Terapi Suhu Rendah untuk Meningkatkan Kualitas Tidur
Ruang-ruang ”antara” di dalam hidup kita seperti saat-saat menunggu antrean di restoran, lift, duduk di halte bus, atau menit-menit sebelum terlelap, kini telah diinvasi secara masif oleh rangsangan digital.
Fenomena itu sebetulnya berakar pada kondisi psikologis yang secara historis dikenal sebagai horror vacui alias ketakutan eksistensial terhadap ruang hampa. Persis seperti yang diungkap sebuah studi provokatif dari University of Virginia yang dipublikasikan di jurnal Science oleh Timothy D. Wilson pada 2014. Wilson memaparkan bagaimana realitas yang getir tentang kondisi kita hari ini.
Dalam eksperimennya, mayoritas subjek penelitian lebih memilih memencet tombol untuk menerima kejutan listrik yang menyakitkan ketimbang harus duduk diam sendirian dengan pikiran mereka selama 15 menit.
Data itu pun mengonfirmasi sebuah pergeseran fundamental dalam kesadaran manusia bahwa stimulasi, seburuk dan sesakit apa pun bentuknya, dianggap lebih tertanggung daripada kebosanan yang mendalam.
BACA JUGA:Prabowo Ingin Perjuangkan Keadilan Ekonomi, Bukan Kapitalisme
BACA JUGA:Efek Karambol Kapitalisme Dunia Kesehatan dan Pendidikan
Kita pun telah secara sukarela menjadi narapidana dalam hiruk-pikuk digital. Sementara itu, jeda tidak lagi dipandang sebagai kebutuhan terhadap ruang untuk berefleksi. Keheningan justru dianggap sebagai sebuah ancaman eksistensial yang harus segera ”dibunuh” dengan notifikasi atau arus informasi instan.
Padahal, jika menilik jauh ke masa silam, kebosanan pernah memiliki nilai luhur sebagai gerbang kebijaksanaan. Di abad pertengahan, para rahib mengenal acedia atau ”setan tengah hari”. Meski sering dikaitkan dengan kemalasan, acedia dipandang sebagai ujian spiritual yang memaksa manusia bergelut dengan kehampaan diri.
Konsep itu lantas bergeser menjadi ennui di kalangan aristokrat pada abad ke-18. Yakni, menjadi simbol status yang menunjukkan kedalaman batin yang tak mampu dipuaskan oleh hiburan duniawi yang dangkal.