GEMAH ripah loh jinawi adalah istilah abad keluhuran yang menggambarkan kesuburan dan sumber daya alam yang melimpah. Nusantara yang kini disebut Indonesia sering dikatakan sebagai negara kaya energi.
Kita memiliki cadangan batu bara besar, gas alam melimpah, potensi panas bumi terbesar di dunia, sinar matahari stabil sepanjang tahun, sumber bioenergi dari sektor pertanian, hingga peluang tenaga air dan angin di berbagai wilayah dari Sabang sampai Merauke dan Miangas sampai Pulau Rote.
Setiap ketegangan geopolitik muncul, isu energi kembali menjadi ancaman. Saat nilai tukar melemah, impor energi membebani neraca perdagangan dan fiskal.
Jika kekayaan energi adalah syarat utama ketahanan nasional, Indonesia seharusnya berada di posisi yang aman. Namun, paradoks itu terus berulang. Setiap harga minyak dunia naik, Indonesia panik.
BACA JUGA:Krisis Energi Listrik, Kosovo Melarang Penambangan Cryptocurrency
BACA JUGA:Krisis Energi Prancis: No More Fuel!
Pertanyaan elementer, jika Indonesia benar-benar kaya energi, mengapa kita masih takut krisis saat terjadi perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran?
Kepanikan pemerintah itu menyebabkan keresahan di tengah masyarakat, khususnya masyarakat urban. Mereka yang punya finansial bagus menimbun BBM, gas, sampai persediaan makanan.
Pada 31 Maret 2026, saat pemerintah menginformasikan akan ada penyesuaian harga BBM, terjadi panic buying BBM. Ada antrean panjang di SPBU di berbagai kota di Indonesia.
Persoalanya terletak pada cara pemerintah mengelola sumber daya tersebut. Indonesia kaya energi secara geologi, tetapi belum sepenuhnya kaya energi secara strategi. Kita memiliki potensi besar, tetapi belum memiliki kedaulatan energi.
BACA JUGA:Antisipasi Krisis Energi Global, Pemerintah Bangun Storage Minyak Raksasa di Sumatra
BACA JUGA:Prabowo Gelar Rapat Terbatas Virtual, Rumuskan Respons Terhadap Ancaman Krisis Energi Global
Cara berpikirnya masih sangat transaksional hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu, bukan untuk kesejahteraan rakyat.
Krisis energi bukan selalu soal pasokan, melainkan soal ketergantungan. Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak mentah dan produk BBM, sedangkan konsumsi energi transportasi terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Sekitar 20–30 persen pasokan minyak dunia per hari melewati Selat Hormuz. Itu menjadikannya jalur distribusi energi global terpenting. Sebanyak 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar melintas di sana setiap harinya.