Negara akhirnya turun tangan. Bukan semata karena anak-anak Indonesia terlalu sering menatap layar, melainkan karena ruang digital sudah terlalu lama dibiarkan membesarkan mereka tanpa pagar yang cukup kuat. Kalau dalam perfileman ada Badan Sensor Film yang membetengi, bagaimana dengan penggunaan layar gadget dan sejenisnya?
Lewat PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS, ditambah aturan pelaksananya pada 2026, pemerintah menegaskan satu hal penting: anak tidak boleh dibiarkan sendirian menghadapi dunia digital yang dirancang sangat agresif, adiktif, dan sering kali lebih canggih daripada kemampuan mereka untuk mengendalikan diri.
Bahkan, akses anak di bawah 16 tahun ke layanan media sosial berisiko tinggi mulai dibatasi. Ini bukan kepanikan moral melainkan sebagai alarm.
Selama ini kita terlalu sibuk berdebat apakah gadget baik atau buruk bagi anak. Perdebatan itu keliru sejak awal, karena gadget hanyalah alat. Yang menentukan masa depan anak justru siapa yang memegang kendali penggunaannya.
Apakah kendali itu masih ada di tangan orang tua, sekolah, dan negara? Ataukah sudah diam-diam berpindah ke algoritma, notifikasi, autoplay, dan platform yang memang dirancang agar pengguna terus tinggal lebih lama di depan layar?
Di sinilah istilah screen time menjadi penting. Screen time adalah lamanya waktu anak menggunakan atau menatap perangkat berlayar, seperti telepon pintar, tablet, komputer, televisi, dan konsol permainan. Namun screen time bukan sekadar hitungan jam.
BACA JUGA:Mengubah Krisis Energi Menjadi Energi Kreativitas
BACA JUGA:Urgensi Revisi UU 32/2002 tentang Penyiaran, ketika Konten LGBT Marak di Media OTT
Yang lebih penting adalah isi layar itu, waktu penggunaannya, tujuan pemakaiannya, dan apakah anak didampingi atau dibiarkan sendirian. Anak yang menggunakan layar untuk belajar tentu berbeda dengan anak yang tenggelam berjam-jam dalam video pendek, “game” tanpa henti, atau media sosial yang menguras perhatian dan emosi.
Teknologi jelas memiliki manfaat. Smartphone bisa menjadi jembatan belajar, membuka akses pengetahuan, membantu komunikasi dengan guru, bahkan melatih kreativitas anak jika digunakan secara tepat. Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa dunia pendidikan hari ini semakin akrab dengan media digital.
Namun, ketika layar dibiarkan bekerja sendirian, dampaknya bisa berbalik arah. Dampak negatif screen time berlebihan pada anak tidak bisa diremehkan.
Yang paling awal tampak biasanya adalah gangguan tidur. Anak tidur lebih larut, kualitas tidurnya menurun, dan tubuhnya sulit benar-benar beristirahat karena otak terus dirangsang oleh cahaya dan arus konten.
Selain itu, screen time yang berlebihan juga mengurangi waktu gerak, permainan fisik, dan interaksi nyata dengan lingkungan. Anak menjadi lebih banyak duduk, lebih sedikit bergerak, dan lebih mudah terjebak dalam pola hidup sedentari.
Dampak berikutnya lebih halus, tetapi jauh lebih serius yaitu melemahnya interaksi keluarga dan phubbing. Tidak sedikit rumah yang kini dipenuhi layar, tetapi miskin percakapan. Anak sibuk dengan gawainya, orang tua sibuk dengan gawainya, lalu semua merasa tetap “bersama” meski sebenarnya saling berjauhan.
BACA JUGA:Krisis Energi, Sebuah Paradoks
BACA JUGA:Pagi Berdarah di Bengkalis, Anak Lelaki Bunuh Ayah: Itu Akumulasi Marah