Kebijakan Populis Kikis Prioritas Pendidikan

Senin 13-04-2026,06:33 WIB
Oleh: Kurniawan Wahyu Pratama*

Persoalan berikutnya menyangkut kondisi para guru, khususnya guru honorer. Mereka memegang peran penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan, terutama di daerah yang kekurangan tenaga pengajar. 

BACA JUGA:Refleksi dan Sinergi Bangsa dalam Memperkuat Pendidikan Santri Pascabencana

BACA JUGA:Menyiapkan Input Pendidikan Tinggi dengan Seleksi Andal dan Berkeadilan

Namun, hingga kini, banyak dari mereka yang masih menghadapi ketidakpastian, baik dari segi penghasilan maupun status. Beban kerja yang besar tidak selalu diikuti dengan penghargaan yang memadai. Dalam jangka panjang, kondisi itu paling pas disebut dalam satu kata: memprihatinkan.

Yang menjadi persoalan di tengah berbagai tantangan tersebut, pendidikan justru harus berbagi perhatian dengan banyak program lain yang lebih mudah menarik simpati publik. Tidak ada yang keliru dengan upaya menghadirkan program yang dirasakan langsung oleh masyarakat. 

Namun, ketika perhatian dan sumber daya lebih banyak terserap ke sana, pendidikan perlahan berada di posisi yang kurang diutamakan. Jika dilihat dari sudut pandang pembangunan, kondisi itu menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan jangka panjang dan kepentingan jangka pendek. 

Kebijakan yang cepat dirasakan memang penting, tetapi tidak selalu cukup untuk menjawab tantangan masa depan. Pendidikan justru berada di wilayah yang hasilnya tidak langsung terlihat, tetapi sangat menentukan arah bangsa ke depan.

BACA JUGA:80 Tahun Merdeka, Quo Vadis Pendidikan Nasional?

BACA JUGA:Jalan Berliku Mewujudkan Tujuan Pendidikan

Dampaknya tidak berdiri sendiri. Krisis karakter siswa akan memengaruhi kualitas kehidupan sosial. Anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan berisiko memperlebar kesenjangan. Sementara itu, guru yang tidak sejahtera akan sulit menjalankan perannya secara optimal. 

Semua itu saling berkaitan dan membentuk persoalan yang tidak bisa diselesaikan secara terpisah. Padahal, sejak awal pendidikan diharapkan menjadi ruang untuk membentuk manusia yang utuh. 

Tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki nilai, sikap, dan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat. Gagasan itu sudah lama menjadi dasar. Namun, dalam praktiknya belum selalu terwujud secara konsisten.

Maka, yang dibutuhkan bukan sekadar penyesuaian kecil, melainkan juga keberanian untuk menempatkan pendidikan kembali sebagai prioritas utama. Bukan hanya dalam wacana, melainkan juga dalam kebijakan yang nyata. 

Program populis tetap bisa berjalan, tetapi tidak seharusnya mengurangi perhatian terhadap pendidikan. Langkah perbaikan juga perlu dilakukan secara menyeluruh. Penguatan karakter siswa harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan guru. 

Akses pendidikan perlu diperluas agar makin sedikit anak yang tertinggal. Tanpa pendekatan yang utuh, kebijakan yang diambil hanya akan bersifat sementara.

Pada akhirnya, masa depan tidak ditentukan oleh kebijakan yang paling cepat terlihat hasilnya, tetapi oleh keputusan yang paling tepat. Pendidikan memang tidak selalu memberikan hasil instan, tetapi justru di situlah letak nilainya. Ia bekerja perlahan, tetapi dampaknya bertahan lama.

Kategori :