Trump ingin tampil sebagai pihak yang menentukan arah, memberikan ultimatum, dan memaksa lawan tunduk. Namun, Iran bermain cantik. Iran berusaha membaliknya dengan membuat ancaman itu terdengar berlebihan, tergesa, bahkan kadang seperti gertakan yang terlalu percaya diri.
Karena itulah, sindiran Iran terasa efektif. Ia berhasil mengganggu tujuan utama ancaman itu sendiri. Ancaman dikeluarkan agar lawan takut. Namun, kalau ancaman tersebut malah dibaca sebagai kepanikan atau kesombongan, sebagian dayanya hilang. Wibawa Trump pun akan retak.
Tentu, semua itu tidak otomatis berarti Iran menang dalam seluruh medan konflik. Perang tetap punya sisi nyata yang jauh lebih keras daripada sekadar kata-kata. Ada kekuatan militer, ada risiko eskalasi, ada kehancuran yang tidak bisa dianggap enteng.
Namun, di lapisan persepsi, Iran berhasil melakukan sesuatu yang penting: membalik ancaman Trump sehingga tidak selalu terdengar sebesar yang ingin ia tampilkan.
Dalam tradisi Islam, kekuatan tidak selalu tampak pada suara yang paling keras. Kadang ia justru hadir pada kemampuan menjaga akhlak dan tidak turun ke cara yang rendah.
Barangkali di sanalah letak hikmah yang paling indah: tidak setiap luka harus dijawab dengan ledakan. Ada yang cukup dijawab dengan keteguhan untuk tetap tegar dan luhur. Dan, ketika martabat tetap tegak di tengah ancaman, di situlah kemenangan sejati menemukan maknanya. (*)
*) Bagus Suminar, wakil ketua ICMI Jatim, anggota Task Force Persyada Al Haromain, dosen.