HARIAN DISWAY – Militer Iran berjanji akan melakukan pembalasan setelah sebuah kapal perusak rudal (destroyer) Amerika Serikat menembak kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman pada hari Minggu, 19 April 2026.
Insiden ini memperburuk situasi di kawasan tersebut hanya beberapa hari sebelum masa gencatan senjata berakhir.
Markas Pusat Khatam Al-Anbiya, mengutuk tindakan Amerika Serikat tersebut sebagai aksi kriminal di laut lepas.
"Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera merespons dan membalas aksi perompakan bersenjata ini serta militer AS," tegas juru bicara Khatam Al-Anbiya Letkol Ebrahim Zolfaghari sebagaimana dikutip oleh kantor berita ISNA.
Tuduhan Pelanggaran Gencatan Senjata
BACA JUGA:Tegang Jelang Perundingan Kedua: Kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Laut Arab
BACA JUGA:Perundingan Damai AS-Iran Digelar Hari Ini di Islamabad
Pihak militer Iran menuduh Washington telah "melanggar gencatan senjata" yang telah berlaku sejak 8 April lalu. Sebaliknya, Presiden AS Donald Trump justru menuduh Teheran yang lebih dulu melanggar kesepakatan tersebut melalui serangan di jalur pelayaran vital pada hari Sabtu.
Tangkapan video dari Departemen Perang AS menunjukkan kapal Destroyer AS membayangi kapal kargo Touska Iran sambil memberi peringatan untuk tidak menerobos blokade-DOW Rapid Response-
Trump, melalui unggahan di Truth Social, menjelaskan detil operasional penyitaan kapal bernama Touska tersebut. Ia menyebut kapal perusak rudal USS Spruance (DDG-111) terpaksa mengambil tindakan ekstrem karena kapal Iran itu mengabaikan peringatan untuk berhenti saat mencoba menghindari blokade laut AS.
"USS Spruance menghentikan mereka tepat di jalurnya dengan meledakkan lubang di kamar mesin. Saat ini, Marinir AS telah menguasai kapal tersebut dan sedang memeriksa muatan di dalamnya!" tulis Trump.
BACA JUGA:Tambah Runyam! Iran Masih Enggan Negosiasi Tahap Kedua, Blokade AS Jadi Penghambat
BACA JUGA:Perundingan Damai AS-Iran Digelar Hari Ini di Islamabad
Insiden di Teluk Oman ini terjadi saat situasi di Selat Hormuz—jalur transit utama bagi minyak dan gas alam cair dunia—masih dalam kondisi sangat kritis. Jalur ini telah praktis tertutup sejak pecahnya perang AS-Israel melawan Iran tujuh minggu lalu.
Meskipun Iran sempat membuka kembali selat tersebut secara singkat pada hari Jumat sebagai bentuk pengakuan atas gencatan senjata Israel-Hizbullah di Lebanon, Teheran segera menutupnya kembali pada hari Sabtu. Langkah penutupan kembali ini merupakan respons atas sikap AS yang tetap mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal yang menuju dan dari pelabuhan Iran.
Kini, dengan ancaman pembalasan dari militer Iran dan masa gencatan senjata yang akan berakhir pada Rabu, 22 April 2026, kawasan tersebut berada dalam bayang-bayang kembalinya perang terbuka berskala besar.(*)