Melalui analisanya, pemikiran bebas Kartini berasal dari kemampuan spiritualitas yang melampaui psikis sosial. Hal itu didukung dengan latar belakang Kartini. Dia berasal dari keluarga kyai.
Dengan latar belakang tersebut, Kartini diduga seorang sufisme. Kemudian didukung dengan sosial-budaya masyarakat Indonesia. Yang sangat berfokus pada keseimbangan.
BACA JUGA:Kartini dalam Cermin Retak: Ketika Emansipasi Tersandung Budaya yang Tak Selesai
Sehingga perspektif feminisme Kartini dipandang sebagai kesetaraan hak wanita di berbagai bidang. Tanpa menghilangkan kearifan lokal Indonesia. Hingga membentuk identitas feminisme khas.
“Sebenarnya, Kartini tidak hanya memperjuangkan kesetaraan. Tapi dia juga seorang tokoh pluralis perempuan pertama di Indonesia,” imbuh Esthi.
Pakar Sosiolinguistik, Gender, dan Seksualitas Dede Oetomo menjelaskan bahwa latar budaya sosial Jawa abad ke-19 mempengaruhi Kartini. Pada masa itu dia dalam menyerap ide Barat dan konsep androgini.
Pada sesi penutup para peserta berfoto bersama, Senin, 20 April 2026--IFI Surabaya
Kartini menjadi androgen karena bacaan dan sifatnya. Generasi Kartini hingga Pramoedya Ananta Toer, berani menyatakan bahwa tidak semua tradisi lokal perlu dipertahankan.
BACA JUGA:Soul Empower: Kartini Edition, Gelang Manik-Manik Jadi Ajang Self-Healing dan Asah Kreativitas
BACA JUGA:Inspirasi Kebaya Kekinian dan Daftar Kegiatan Hari Kartini, 21 April 2026
“Kartini memadukan pemikiran Barat dengan unsur-unsur lokal. Dia memilih untuk meninggalkan kebudayaan sendiri yang tidak sehat dan diskriminatif,” ujar Dede.
Selain itu, Dede juga mengingatkan bahwa dalam memahami pemikiran Kartini harus berhati-hati. Agar terhindar dari bias eurosentrisme.
“Dengan kata lain, tugas kita adalah tidak menerima mentah-mentah apa yang ditulisnya,” pungkasnya. (*)
*) Peserta Magang Kemnaker RI.