Mereka bermain di ruang indoor. Permainan itu dimodifikasi menjadi lebih luas. Hingga sekitar 16 kotak. Teriakan peserta memantul di ruangan tertutup. Terutama saat mereka berlari. Lalu melompat untuk menerobos penjagaan.
Di sudut lain, kelompok kelereng menghadirkan kelucuan tersendiri. Banyak peserta terlihat kesulitan. Karena banyak yang lupa cara menyentil kelereng. Yang masih ingat, mengajari yang lain. Permainan itu juga membuat mereka dekat satu sama lain.
Komunitas Bermain Surabaya dan seluruh peserta berpose bersama usai memainkan permainan tradisional dalam ajang Yok Dolan di Pos Bloc, Surabaya.-Raden Khansa Pandya Amorta-Harian Disway
Salah seorang peserta, Zaki Fahmi, menyebut kegiatan itu menjadi ruang jeda dari rutinitas. “Saya sangat merindukan permainan-permainan masa kecil seperti ini. Yok Dolan ini wadah positif untuk berkumpul dan bernostalgia," ujarnya.
Desy Dian, Ketua Komunitas Bermain Surabaya, menyebut komunitasnya dibentuk untuk menjadi alternatif aktivitas positif di tengah era digital. “Tujuan utamanya, kami ingin para peserta hepi. Lepas dulu sejenak dari gadget,” ujarnya.
BACA JUGA:Antre #Reset Indonesia Edisi Hemat di Pos Bloc Surabaya, Nyalakan Harapan untuk Indonesia
BACA JUGA:Santri dan Sinema Bertemu di Pos Bloc: Festival Film Santri 2025 Resmi Dibuka, Tayangkan 142 Film
Komunitas itu tergolong baru. Didirikan pada 31 Januari 2026. Pertemuan pertama hanya diikuti 17 orang. “Siapa saja ingin bernostalgia dengan permainan masa kecil, silakan bergabung,” katanya.
Menjelang penutupan, panitia mengadakan penghargaan kostum unik. Peserta laki-laki yang mengenakan rompi batik bermotif bangunan Surabaya jadi pemenang. Begitu namanya diumumkan, ia langsung berjoget dan berselebrasi ala pemain bola.
Peserta perempuan yang jadi pemenang tampil berkebaya. Dengan gaya yang disebut terinspirasi dari Kartini. Setelah itu, acara ditutup dengan sesi ngonten dan foto bersama.
Di rumput sisi timur Pos Bloc, sore itu permainan tradisional menjadi jeda bagi orang dewasa. Mereka sejenak mereka berhenti dari rutinitas. Lalu kembali mengakrabi permainan tradisional. Inner child mereka muncul dari kerinduan masa silam. (*)
*) Peserta MagangHub Kemnaker RI.