Kebebasan Yang Masih Setengah: Membaca Kartini Hari Ini

Selasa 21-04-2026,18:54 WIB
Oleh: Ruhamaul Waro


--

Oleh: 

Ruhamaul Waro, S.Hum., M.Pd.

Mahasiswa S2 UIN Malang

KARTINI bukan hanya nama dalam buku sejarah. Ia adalah sosok yang pernah merasa gelisah, mempertanyakan batas dan menolak diam di tengah aturan yang membatasi perempuan. Di zamannya, berpikir berbeda saja sudah “cukup berani” -dan ia memilih untuk tetap melakukannya. 

Gambaran itu kemudian membawa kita melihat bagaiana sosok seperti Kartini dikenang hari ini.

Setiap 21 April, Hari Kartini datang dengan cara yang hampir sama. Ada kebaya, ucapan selamat, dan berbagai perayaan yang terlihat meriah. Seolah yang dirayakan bukan lagi kegelisahannya, melainkan bentuk yang paling mudah untuk diingat.

Padahal esensi perjuangan kartini tidak berhenti pada seremoni. Ia hidup dalam gagasan pendidikan, kebebasan berpikir, dan keberanian menentukan jalan hidup. Hal-hal seperti ini tidak cukup dirayakan setahun sekali, tetapi perlu dihidupkan dalam keseharian.

Di zaman sekarang. Perempuan memang memiliki banyak kesempatan. Akses pendidikan terbuka, peluang kerja lebih luas dan ruang untuk bersuara juga semakin besar. Namun, bukan berarti semua sudah benar-benar bebas.

BACA JUGA:Hari Kartini, Ketua Komisi E DPRD Jatim Sri Untari Bisowarno Sampaikan Pesan untuk Perempuan dan Masyarakat

BACA JUGA:8 Promo Hari Kartini 21 April di Surabaya, Diskon Chatime Hingga Pizza Khusus buat Perempuan

Batasan itu masih ada, hanya bentuknya berbeda. Ia tidak lagi hadir sebagai larangan yang jelas, tetapi sebagai ekspektasi yang terasa wajar. Perempuan terlihat bebas memilih, tetapi sering kali diarahkan pada pilihan yang dianggap “paling tepat”.

Salah satu contohnya adalah ujaran yang sering kita dengar: “Jadi perempuan jangan terlalu tinggi, nanti susah dapat jodoh.” Sekilas terdengar seperti nasihat biasa, tetapi sebenarnya ujaran tersebut menyimpan batas.

Ujaran seperti ini membuat perempuan tanpa sadar mulai membatasi diri. Mereka mulai berpikir ulang tentang seberapa jauh mereka boleh bermimpi dan melangkah. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena takut dianggap “terlalu”.

Akhirnya, yang terjadi bukan lagi soal pilihan yang bebas. Perempuan justru belajar menyesuaikan diri agar tetap diterima. Di titik ini, kita perlu bertanya: apakah ini benar-benar kebebasan, atau hanya batasan yang dibuat lebih halus?

Kategori :