Kebebasan Yang Masih Setengah: Membaca Kartini Hari Ini

Selasa 21-04-2026,18:54 WIB
Oleh: Ruhamaul Waro

BACA JUGA:Kartini Survivor: Kirana Bangkit dari Trauma Kekerasan Seksual

BACA JUGA:Khofifah Ajak Seluruh Elemen Turunkan Angka Kematian Ibu di Hari Kartini 2026

Menariknya, perjuangan Kartini sendiri tidak berdiri sendiri. Dalam hidupnya, ada peran lingkungan, termasuk laki-laki di sekitarnya, yang memberi ruang bagi dirinya untuk belajar dan berpikir. Ini menunjukkan bahwa perubahan tidak pernah terjadi sendirian.

Hal yang sama juga berlaku hari ini. Peran laki-laki tetap penting, bukan untuk mendominasi, tetapi untuk ikut menciptakan ruang yang adil. Ketika masih ada anggapan bahwa perempuan tidak boleh “melebihi”, di situlah semua pihak diuji: apakah akan mempertahankan standar itu, atau berani mengubahnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, tekanan itu juga muncul dalam bentuk lain. Perempuan diharapkan tetap lembut, tidak terlalu vokal, dan tidak berbeda dari yang lain. Jika terlalu tegas, sering dianggap berlebihan. Jika memilih jalan yang tidak umum, sering dipertanyakan.

Selain itu, ada juga tuntutan untuk berhasil di semua hal sekaligus. Berkarier dengan baik, hadir untuk keluarga, dan tetap memenuhi standar sosial. Di media sosial, tekanan ini bahkan terasa lebih kuat karena adanya kebutuhan akan validasi. Akibatnya, kebebasan sering kali hanya terlihat di permukaan. Pilihan memang ada, tetapi tidak semuanya terasa aman untuk diambil.

BACA JUGA:Kartini Survivor: Devi Mahardianingtyas, Penyandang Dwarfisme yang Jadi Andalan Kantor Imigrasi

BACA JUGA:30 Kutipan RA Kartini dari Buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang Inspiratif Buat Medsos

Lebih jauh lagi, kebebasan juga berkaitan dengan tubuh dan martabat. Perempuan berhak menentukan batas, berhak merasa aman, dan berhak menolak segala bentuk perlakuan yang tidak adil. Nilai inilah yang sebenarnya sejalan dengan semangat Kartini.

Sayangnya, di tengah semua itu, perayaan Hari Kartini sering berhenti pada hal yang paling mudah: “tampilan”. Seolah mengenakan kebaya dan memberi ucapan sudah cukup untuk memahami perjuangannya.

Padahal, memahami Kartini berarti berani melakukan hal yang lebih sulit. Berani berpikir kritis, berani memilih dengan sadar, dan berani tetap teguh meskipun tidak selalu diterima.

Mungkin kita perlu jujur pada diri sendiri. Selama ini, kita masih lebih nyaman merayakan Kartini daripada melanjutkan perjuangannya.

BACA JUGA:IFI Surabaya Peringati Hari Kartini, Bedah Konsep Androgini dan Pencerahan Prancis

BACA JUGA:Kartini Survivor: Open Mind, Update Wawasan & Panjang Sabar Jadi Bekal Pendamping Penyintas Kekerasan Seksual

Kita menyebutnya merdeka, tapi masih menimbang langkah agar tidak melampaui batas yang dibuat orang lain—lalu, apa sebenarnya yang kita rayakan?

Jika perempuan masih harus mengecilkan diri agar tetap diterima, maka yang hidup hari ini bukan semangat Kartini, melainkan batasan yang ia lawan. (*)

Kategori :