Kecemasan Kolektif dan Bangsa yang Lelah

Jumat 24-04-2026,19:56 WIB
Oleh: Yudi Fathoni Wijaya*

DI sebuah warung kopi di pinggiran Jakarta, seorang sopir truk bercerita dengan suara pelan. Dua bulan lalu ia kena PHK. Istrinya baru saja menaikkan harga gorengan dari seribu menjadi dua ribu rupiah per biji, dan anak sulungnya bertanya kenapa susu kotak tidak lagi masuk daftar belanja. 

”Saya nggak marah, Mas,” katanya. ”Saya cuma capek.” Kalimat itu pendek, tetapi ia merangkum satu diagnosis yang mungkin paling jujur tentang Indonesia hari ini. 

Kita tidak sedang marah. Kita sedang lelah.

Dulu kecemasan publik mudah dibaca. Ia meledak di jalanan, mengambil rupa spanduk, membakar ban, meneriakkan yel-yel. Sekarang kecemasan itu berpindah rumah. 

Ia tinggal di grup WhatsApp keluarga, di kolom komentar TikTok, di percakapan malam antara suami dan istri yang sama-sama pura-pura tidur. Ia menjadi sunyi, tetapi justru karena sunyi itulah ia jauh lebih mengkhawatirkan.

BACA JUGA:Prabowo Optimistis Ekonomi Tumbuh Positif: Angka Kemiskinan dan Pengangguran Terus Menurun

BACA JUGA:Tingkat Pengangguran Terbuka Jatim Turun Jadi 3,88 Persen

Data berbicara cukup keras. Laporan Ipsos What Worries the World akhir 2025 menempatkan korupsi di urutan teratas kekhawatiran publik Indonesia 68 persen, lebih tinggi daripada rata-rata global. 

Pengangguran dan ketimpangan sosial menyusul. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan menembus 5,8 persen pada Agustus 2025, sementara rupiah sempat menyentuh Rp17.000 per dolar AS pada April 2026. 

Angka-angka itu bukan sekadar aritmetika makroekonomi. Ia adalah detak jantung kolektif sebuah bangsa yang sedang menahan napas.

Para pejabat kerap menyebut itu sebagai ”dinamika”. Kata yang sopan, tetapi di tingkat masyarakat, ”dinamika” itu bernama kehilangan pekerjaan, tagihan listrik yang menunggak, dan anak-anak yang berhenti bertanya kapan bisa beli sepatu baru karena tahu jawabannya akan menyakitkan semua pihak.

BACA JUGA:Pengangguran Terbuka Jatim Tinggi, Bunda Renny Soroti Peran Millenium Job Centre

BACA JUGA:Prabowo Sebut Pengangguran Turun ke Level Terendah Sejak 1998, Danantara Jadi Kunci Penciptaan Lapangan Kerja

Ada tiga pintu masuk kecemasan yang perlu dibaca bersamaan. 

Pertama, pintu korupsi. Bangsa ini tidak pernah benar-benar naif soal korupsi; kita sudah lama hidup bersama sinisme. Yang berubah adalah skala dan keberanian. Ketika angka kerugian negara ditulis dalam ratusan triliun, otak publik gagal memprosesnya. 

Kategori :