KETIMPANGAN DAN TANTANGAN SOSIAL METROPOLITAN
Pembahasan kemudian mengerucut pada identitas Surabaya sebagai kota kampung. Kampung-kampung kota bukan sisa masa lalu yang tertinggal, melainkan struktur kota yang hidup dan terus beradaptasi, sebagaimana ditegaskan Johan Silas.
BACA JUGA:Surabaya Melting Borders: Membayangkan Kepadatan dan Masa Depan Kota Raya
BACA JUGA:Surabaya Bukan Dubai: Obsesi Langit dan Lupa Tanah
Di dalam kampung tersimpan sejarah, relasi sosial, dan sistem ekonomi warga yang menopang kehidupan kota sehari-hari. Ironisnya, visi Surabaya sebagai super hub dan destinasi urban tourism belum sepenuhnya berpihak pada kekuatan lokal itu.
Ketimpangan terlihat jelas dalam akses transportasi publik, hunian layak, dan program infrastruktur, terutama di kampung-kampung pinggir rel yang dihuni warga ber-KTP Surabaya, tetapi hidup dalam kondisi rentan.
Padahal, justru dari kampung-kampung itulah resiliensi kota paling nyata terlihat.
Secara fisik, kampung memanfaatkan ruang sempit secara efisien; secara ekonomi, ia menampung beragam industri kecil; secara lingkungan, ia dikelola melalui kesepakatan dan praktik kolektif warga; dan secara sosial budaya, ia melahirkan inisiatif seperti kaleng inspirasi dan kelompok tabungan ibu-ibu.
BACA JUGA:Ujian Surabaya sebagai Kota Moderasi: Simbol Keberagaman
BACA JUGA:Meraba Wajah Prostitusi di Surabaya Saat Ini
Kampung menjadi ruang hidup yang adaptif dan bertahan lintas generasi –fondasi identitas kota yang sulit digantikan.
Secara sosiologis, Surabaya Raya mencerminkan bagaimana pembangunan metropolitan berpotensi menciptakan ketidaksetaraan spasial. Akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi belum sepenuhnya merata sehingga menuntut pendekatan pembangunan yang lebih inklusif.
Secara sosiologis, Surabaya Raya membutuhkan narasi bersama: kawasan itu adalah ruang hidup kolektif yang saling bergantung. Kerja sama lintas daerah, perencanaan terpadu, dan partisipasi masyarakat menjadi kunci untuk membangun metropolitan yang berkeadilan sosial.
Dengan demikian, konsep ab-urbanisasi mengingatkan bahwa menjauhi kota kerap bukan pilihan bebas, melainkan migrasi paksa akibat kebijakan yang keliru. Warga terdorong ke pinggiran karena kota gagal menyediakan hunian yang terjangkau dan layak.
Surabaya dan kawasan sekitarnya kini berada di persimpangan penting untuk membaca ulang arah urbanisasi. Kota perlu kembali kepada warganya –bukan semata sebagai ruang investasi, melainkan sebagai ruang hidup.
Membayangkan Surabaya Raya berarti membangun kota yang padat, raya, terhubung, dan berakar pada kampung-kampungnya. Di sanalah Surabaya dapat tumbuh besar tanpa kehilangan jiwanya.