Membicarakan Surabaya Raya: Kota yang Tumbuh Melampaui Batas Administratif

Senin 27-04-2026,21:03 WIB
Oleh: Dhahana Adi P. & Annisa B.T.*

MENUJU IDENTITAS KOLEKTIF SURABAYA RAYA

Menariknya, meski Surabaya Raya telah terintegrasi secara fungsional, identitas kolektifnya masih dalam proses pembentukan. Warga Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, ataupun Lamongan tetap memiliki kebanggaan lokal masing-masing. 

Di sanalah tantangan sosial-budaya muncul: bagaimana membangun rasa kebersamaan metropolitan tanpa menghapus identitas lokal.

Secara kultural, Surabaya Raya belum sepenuhnya memiliki identitas kolektif yang mapan. Identitas lokal tetap kuat, sedangkan identitas metropolitan masih bersifat instrumental –digunakan untuk kepentingan ekonomi dan perencanaan, bukan sebagai kesadaran sosial bersama. 

Tantangan ke depan adalah membangun identitas metropolitan yang inklusif, yang tidak menghapus keunikan lokal, tetapi menegaskan rasa saling ketergantungan antardaerah. Dari sudut pandang sosiologi, identitas itu tidak dapat dipaksakan dari atas, tetapi tumbuh melalui interaksi sosial, partisipasi warga, dan kebijakan kolaboratif lintas wilayah.

Mengakhiri tulisan ini, kami berpendapat bahwa Surabaya Raya bukan sekadar konsep tata ruang, melainkan juga realitas sosial yang terus berkembang. Ia lahir dari mobilitas manusia, dinamika ekonomi, dan perubahan budaya masyarakat urban. 

Dengan demikian, kita diajak melihat kota bukan hanya sebagai tempat tinggal, melainkan sebagai ruang bersama yang harus dikelola dengan kesadaran sosial, keadilan, dan keberlanjutan. (*)

*) Dhahana Adi Pungkas adalah urbanis, pemerhati budaya dan sejarah populer.

*) Annisa B. Tribhuwaneswari adalah pengajar perencanaan wilayah kota Universitas PGRI Adibuana Surabaya.

 

Kategori :