Surabaya di musim hujan selalu begini. Hujan turun lama. Beberapa titik tergenang. Pompa dinyalakan. Kita menunggu air turun pelan-pelan. Tahun depan, pola ini akan terulang.
Padahal kota ini tidak kekurangan proyek. Saluran terus dibangun, box culvert diperlebar, dan rumah pompa bertambah dari tahun ke tahun. Kalau dilihat dari angka investasi dan panjang jaringan, upaya ini jelas ada. Namun di lapangan, genangan masih muncul di lokasi yang itu-itu juga atau berpindah sedikit ke titik baru.
Yang sering luput dibahas. Kita terlalu fokus pada bagian hilir. Begitu hujan turun, perhatian langsung tertuju pada bagaimana air itu cepat mengalir. Pompa menjadi andalan, saluran diperbesar, dan aliran dipercepat. Sementara di hulu: di halaman rumah, di gang, di kawasan padat, air tetap dibiarkan mengalir begitu saja ke permukaan.
Akibatnya sederhana: volume air yang masuk ke sistem tetap besar, bahkan cenderung bertambah setiap tahun. Permukaan tanah yang dulu bisa menyerap air telah berubah menjadi beton atau aspal. Jadi, setiap hujan deras yang dihadapi merupakan akumulasi perubahan tata ruang yang berlangsung lama.
Di banyak lokasi, pompa pada akhirnya hanya menggeser persoalan. Air dipindahkan dari satu titik ke titik lain yang kapasitasnya kebetulan masih tersedia. Begitu titik itu penuh, masalah muncul lagi. Di tingkat permukiman, saluran kecil sering kali tidak benar-benar terhubung ke sistem utama. Air sudah terkumpul, tapi jalannya keluar tidak lancar.
Ketergantungan pada pompa juga bukan hal yang sederhana. Sistemnya harus terus hidup, hampir tanpa jeda. Listrik, operator, dan perawatan semuanya harus siap. Begitu ada gangguan kecil saja, dampaknya langsung terasa di lapangan.
BACA JUGA:Pemkot Surabaya Siapkan Skema Baru Atasi Banjir di Wilayah Selatan
BACA JUGA:Banjir Terjang Demak, 583 Jiwa Mengungsi dan Satu Warga Dilaporkan Hilang
Kalau dilihat lebih jauh, pendekatan seperti ini terus merespons akibatnya, bukan mengurangi sumbernya.
Padahal ada cara lain yang sebenarnya cukup sederhana, meskipun penerapannya tidak instan. Air hujan tidak semuanya harus masuk ke saluran. Sebagian bisa ditahan dan diberi waktu untuk meresap kembali ke tanah.
Di banyak kota, pendekatan ini mulai digunakan. Istilahnya sponge city. Bukan konsep yang rumit—intinya memberi ruang agar air tidak langsung menjadi limpasan.
Di Surabaya, pendekatan seperti ini justru relevan. Kota ini berada di pesisir, dengan tekanan dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, ada hujan dari daratan; di sisi lain, ada pengaruh pasang surut laut. Dari Gunung Anyar sampai Benowo, karakter wilayahnya beragam, tetapi masalah airnya saling terhubung.
Di timur, banyak kawasan berdiri di atas lahan bekas tambak. Di utara, kepadatan tinggi membuat ruang terbuka hampir tidak ada. Di barat, ekspansi industri dan logistik terus menambah luas permukaan yang kedap air. Setiap perubahan kecil di satu tempat, dampaknya terasa di tempat lain.
Belum lagi faktor wilayah hulu. Surabaya menerima aliran dari sistem yang lebih besar, terutama dari Sungai Brantas. Jadi, ketika curah hujan tinggi di atas, tekanan di bawah ikut meningkat. Kondisi ini membuat kota tidak pernah benar-benar memiliki kendali penuh.
Sementara itu, kebutuhan akan air bersih terus meningkat. Ini yang sering terasa janggal: saat hujan kita kelebihan air, tapi beberapa bulan kemudian mulai bicara kekurangan pasokan. Dua situasi yang seharusnya bisa saling melengkapi, namun tidak pernah benar-benar dipertemukan.
BACA JUGA:Progres Rumah Pompa Kedungpeluk Capai 70 Persen, Ditarget Rampung 14 Februari