Surabaya Langganan Banjir: Mengapa Puluhan Pompa dan Box Culvert Tak Pernah Cukup?

Selasa 28-04-2026,14:56 WIB
Oleh: Ali Yusa*

BACA JUGA:Parah! Rumah Pompa Kalisari Surabaya Jebol Tersumbat Sofa

Di sini revitalisasi infiltrasi mulai masuk akal. Bukan sebagai proyek besar, melainkan sebagai arah.

Mulainya dari hal-hal yang terlihat kecil. Sumur resapan di rumah, ruang terbuka yang benar-benar difungsikan, trotoar yang tidak sepenuhnya kedap, kolam retensi yang tidak sekadar menjadi tampungan sementara. Di gedung-gedung besar, air hujan dapat ditangkap dan digunakan kembali.

Tidak ada satu langkah pun yang langsung mengubah kondisi. Tapi kalau dilakukan di banyak titik, dampaknya akan terasa pada sistem secara keseluruhan.

Persoalannya tinggal implementasi.

Kalau semuanya dibebankan ke pemerintah, jangkauannya akan terbatas. Air juga banyak jatuh di area privat, seperti rumah, gudang, dan kawasan industri. Di situ peran masyarakat dan pelaku usaha tidak bisa digantikan.

RT/RW, komunitas warga, kelompok lingkungan: mereka yang paling dekat dengan titik-titik genangan kecil. Kalau mereka bergerak, skalanya bisa jauh lebih luas daripada proyek tunggal.

Dunia usaha juga memiliki peran yang sama besar. Setiap pembangunan baru membawa konsekuensi limpasan tambahan. Tanpa pengelolaan yang matang, tekanan pada sistem kota akan terus meningkat.

Kalau mau jujur, biaya banjir ini tidak pernah murah. Waktu terbuang, kendaraan rusak, dan distribusi barang terganggu. Di kota seperti Surabaya, gangguan kecil saja bisa merambat dengan cepat.

Sebaliknya, ketika air mulai dikelola di hulu, banyak beban bisa berkurang sekaligus. Sistem tidak perlu bekerja terlalu keras, cadangan air bertambah, dan tekanan pada musim kemarau dapat berkurang.

BACA JUGA:Pemkot Surabaya Siapkan Pompa Air Bantu Petani Tambak Hadapi Banjir Rob

BACA JUGA:Banjir di Tol Sedyatmo Belum Surut, BBWS Kerahkan 4 Unit Pompa Penyedot Air

Surabaya tidak kekurangan pilihan. Yang dibutuhkan lebih ke arah konsistensi dalam tindakan. Mari petakan genangan bersama, perbaiki saluran, dan dorong lebih banyak upaya infiltrasi—dimulai dari langkah-langkah kita hari ini.

Selebihnya akan mengikuti. Intinya sederhana: cara kita memperlakukan air perlu diubah.

Selama ini, air selalu dianggap sebagai sesuatu yang harus segera dibuang. Padahal di saat yang sama, kota juga sangat bergantung padanya.

Di situ sebenarnya masalahnya sudah terlihat. Surabaya bisa kalau semua ikut ambil bagian.

Kategori :