TEMU tiga tokoh PMII baru-baru ini menarik dicermati. Mereka adalah Nusron Wahid, A. Muhaimin Iskandar, dan Nasaruddin Umar. Kebetulan ketiganya menjabat menteri di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mereka adalah menteri ATR/BPN, menko pemberdayaan masyarakat, dan menteri agama.
Ketiganya seperti deklarasi untuk merebut PBNU menjadi rumah baru para kader PMII. Dalam acara Halalbihalal PB IKA PMII di Jakarta. Mulanya Nusron mengaku iri kepada Cak Imin – panggilan akrab Ketua Umum PKB A. Muhaimin Iskandar– yang berhasil menjadikan PKB sebagai rumah bagi kader PMII.
”Pekerjaan rumah berikutnya, PBNU.” Demikian kurang lebih ditegaskan kader PMII di Partai Golkar itu.
Pancingan Nusron itu gayung bersambut. Cak Imin –yang selama ini dikenal ”perang dingin” dengan Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Sekjen Saifullah Yusuf– langsung menyambernya. Ia menyebut rezim PBNU sekarang telah gagal.
BACA JUGA:Mikrolet NU
BACA JUGA:Kelas Baru NU
”Terutama ketua umum PBNU yang sekarang, menurut saya sudah gagal,” kata politikus NU yang dikenal licin itu.
Pernyataan blokosuto dua pentolan alumnus PMII tersebut langsung memantik banyak tafsir. Ada yang langsung curiga: jangan-jangan itu sinyal konsolidasi kekuasaan. Bagian dari perebutan kepemimpinan NU dalam muktamar yang berlangsung tahun ini. Ada pula yang melihatnya sebagai hal biasa dalam dinamika organisasi besar.
Tafsir politik bisa apa saja. Apalagi, selama ini NU memang dikenal sebagai organisasi besar yang bisa dikonsolidasikan menjadi kekuatan politik. Sebagai ketum PKB yang dulu didirikan PBNU, ia jelas sangat berkepentingan agar NU bisa menjadi gudang suara partainya.
Namun, jika berhenti pada tafsir politik semata, kita justru melewatkan sesuatu yang lebih penting. Apa itu? Bahwa ini bukan sekadar soal siapa masuk ke PBNU. Melainkan, tanda bahwa NU sedang menata ulang dirinya di tengah perubahan zaman yang cepat.
BACA JUGA:Tongkat NU
BACA JUGA:NU Baru
Sampean pasti tahu, sejak awal NU tidak pernah benar-benar tunggal. Ia bukan organisasi modern yang rapi dengan satu pusat komando. NU lebih mirip jejaring besar. Dengan pesantren sebagai jantungnya, kiai sebagai porosnya, dan jamaah sebagai denyut hidupnya. NU diibaratkan franchise dalam bisnis korporasi. Bukan holding.
Di atas fondasi pesantren, kiai, dan jamaah itu, lahirlah berbagai kanal kaderisasi dan gerakan. PMII di kampus, Ansor di lapangan, dan belakangan, jaringan profesional di berbagai sektor. Semuanya tumbuh dengan logika masing-masing. Namun, semuanya tetap mengaku satu rumah, yakni NU.
Dalam konteks itu, ketika alumni PMII mulai menyebut PBNU sebagai ”rumah baru”, yang sebenarnya terjadi adalah pergeseran orbit. Mereka yang sebelumnya berkiprah di luar, seperti di politik, birokrasi, atau dunia profesional, sedang mencoba kembali menambatkan diri ke pusat kelembagaan NU. Yang selama ini beredar di luar ingin kembali ke dalam.