Pola kekerasan sistemik merupakan bentuk kekerasan yang terjadi secara berulang, terstruktur, dan dilegitimasi (secara eksplisit maupun implisit) oleh sistem, budaya, atau tata kelola suatu institusi sehingga tidak lagi dipandang sebagai penyimpangan individu, melainkan menjadi bagian dari praktik yang ”dinormalkan”.
Dalam konteks institusi seperti daycare, kekerasan sistemik dapat terjadi ketika: (1) Prosedur kerja (formal atau informal) melegitimasi tindakan kekerasan; (2) Pengasuh meniru praktik kekerasan dari senior (transfer budaya organisasi); (3) Manajemen tidak melakukan pengawasan atau justru menoleransi perilaku tersebut.
Artinya, kekerasan bukan lagi ”penyimpangan”, melainkan produk dari sistem itu sendiri.
Pada pola kekerasan sistemik, kekerasan yang terjadi tidak bersifat insidental, melainkan terstruktur dalam praktik sehari-hari. Dalam psikologi sosial dan organisasi, kondisi itu dapat dijelaskan sebagai bentuk normalisasi perilaku menyimpang dalam sistem yang tidak memiliki kontrol efektif.
Dalam konteks pengasuhan anak, hal itu sangat berbahaya karena anak berada pada fase perkembangan yang sangat sensitif. Menurut attachment theory, anak membutuhkan hubungan yang konsisten, hangat, dan responsif dengan pengasuh untuk membangun rasa aman (Bowlby, 1969).
Ketika pengasuhan justru diwarnai kekerasan, yang terbentuk adalah insecure attachment. Kelekatan yang tidak aman itu berisiko berdampak pada hubungan interpersonal anak di masa depan, termasuk sulit memercayai orang lain dan regulasi emosi yang buruk (Ainsworth, dkk., 1978).
DAMPAK TERHADAP ANAK DAN KELUARGA
Dari perspektif psikologi perkembangan, kekerasan pada usia dini dapat menimbulkan trauma psikologis yang serius. Anak dapat mengalami kecemasan berlebih, ketakutan terhadap lingkungan sosial, dan gangguan regulasi emosi.
Menurut teori adverse childhood experiences, pengalaman buruk pada masa kanak-kanak (ACE) memiliki hubungan kuat dengan gangguan kesehatan mental di masa dewasa, seperti depresi dan gangguan kecemasan (Felitti, dkk., 1998).
Selain itu, paparan stres kronis akibat kekerasan dapat mengganggu perkembangan otak anak, terutama pada area yang berkaitan dengan emosi dan kontrol diri (Shonkoff, dkk., 2012).
Dampak kasus daycare bermasalah tidak hanya dirasakan anak sebagai korban langsung, tetapi juga memberikan tekanan psikologis, sosial, dan bahkan ekonomi pada orang tua.
Dalam banyak kasus, orang tua mengalami guncangan emosional yang cukup dalam karena kepercayaan yang mereka berikan justru berujung pada risiko bagi anak. Mereka mengalami rasa bersalah, kehilangan kepercayaan dan kecemasan terhadap keselamatan anak.
Dalam konteks psikologi keluarga, kondisi itu dapat memengaruhi kualitas hubungan orang tua-anak, terutama jika orang tua menjadi overprotektif atau mengalami kecemasan berlebih (Bornstein, 2019). Sebagai respons terhadap trauma, banyak orang tua yang menjadi lebih protektif terhadap anak.
Dalam batas tertentu, hal tersebut wajar. Namun, jika berlebihan, itu dapat berkembang menjadi overprotective parenting. Menurut Diana Baumrind, pola asuh yang terlalu protektif dapat menghambat perkembangan kemandirian anak. Dampaknya, anak menjadi kurang mandiri, takut menghadapi lingkungan baru, dan ketergantungan yang tinggi pada orang tua.
REFLEKSI KRITIS
Dari perspektif psikologi dan sistem sosial, kasus daycare yang bermasalah itu mencerminkan beberapa masalah mendasar.