Malaysia dan Jawa Timur: Serumpun dan Saling Menguntungkan

Minggu 03-05-2026,08:33 WIB
Oleh: Suko Widodo dan Alhimni Fahma*

Banyak perusahaan yang menjadikan Malaysia sebagai pintu masuk untuk memperluas pasar Asia Tenggara. Di sinilah hubungan keduanya menjadi sangat masuk akal.

Malaysia bukan pasar baru bagi Jawa Timur. Relasi itu sudah berlangsung lama dan justru karena itu tetap penting. Dalam ekonomi, mitra yang paling strategis sering kali bukan yang paling jauh, melainkan yang paling dekat, stabil, dan mudah dijangkau.

Data perdagangan memperlihatkan hubungan itu nyata. Pada 2025, ekspor Jawa Timur ke Malaysia mencapai sekitar USD1,54 miliar, sementara impor dari Malaysia sekitar USD572 juta. Artinya, Jawa Timur mencatat surplus perdagangan hampir USD1 miliar. 

Itu menunjukkan bahwa hubungan dagang keduanya bukan sekadar simbolis, melainkan transaksi konkret dan berkelanjutan.

Jawa Timur mengekspor hasil bumi, produk perkebunan, makanan olahan, dan sejumlah produk manufaktur. Sebaliknya, impor dari Malaysia banyak berupa bahan baku kimia organik, mesin, dan peralatan teknis. 

Hubungan itu bersifat saling melengkapi. Malaysia menjadi pembeli sekaligus pemasok penting bagi industri Jawa Timur.

Karena itu, misi dagang Pemprov Jawa Timur ke Kuala Lumpur bukan agenda seremonial, melainkan langkah rasional. Malaysia tetap menjadi simpul penting bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sekaligus pintu masuk menuju pasar ASEAN yang lebih luas.

SERUMPUN SEBAGAI MODAL SOSIAL DAN DIPLOMASI DAERAH

Ada satu faktor yang sering luput ketika membahas kerja sama ekonomi: budaya. Hubungan Jawa Timur dan Malaysia tidak hanya ditopang oleh angka perdagangan, tetapi juga oleh kedekatan sosial yang disebut serumpun. Sayang, istilah itu sering dianggap terlalu romantis, padahal justru di situlah kekuatannya.

Bahasa yang relatif dekat, mayoritas penduduk muslim, tradisi sosial yang mirip, selera konsumsi yang tidak jauh berbeda, hingga cara berinteraksi yang serupa menciptakan ruang bisnis yang lebih cair. Orang lebih mudah percaya kepada mereka yang terasa familier.

Sosiolog Francis Fukuyama menegaskan bahwa trust adalah fondasi utama pembangunan ekonomi modern. Dalam bisnis, kepercayaan sering kali lebih mahal daripada modal. Kedekatan budaya mempercepat kepercayaan itu. Negosiasi menjadi lebih lentur, komunikasi lebih mudah, dan risiko kesalahpahaman dapat ditekan.

Dengan demikian, Malaysia bukan hanya pasar terdekat secara geografis, melainkan juga pasar terdekat secara psikologis.

Dalam perspektif hubungan internasional, kondisi itu juga menarik. Selama ini hubungan Indonesia-Malaysia sering dibaca dari isu negara seperti perbatasan, pekerja migran, sengketa budaya, atau dinamika diplomatik pusat. Padahal, hubungan yang paling hidup justru terjadi di level daerah.

Jawa Timur dan Malaysia adalah contoh bagaimana kerja sama lintas batas tidak selalu harus menunggu Jakarta dan Putrajaya. Dalam studi hubungan internasional, hal itu dikenal sebagai paradiplomasi, yaitu ketika pemerintah daerah menjalankan hubungan luar negeri untuk kepentingan ekonomi lokal.

Hari ini persaingan global tidak hanya terjadi antarnegara, tetapi juga antarwilayah. Daerah yang mampu membangun jejaring internasional akan lebih cepat tumbuh daripada yang hanya menunggu kebijakan pusat. Jawa Timur memiliki semua syarat itu: basis industri kuat, pasar besar, posisi geografis strategis, dan modal budaya yang solid.

DARI LIFESTYLE ECONOMY HINGGA STRATEGI MASA DEPAN

Kategori :