"Pertama canting untuk membentuk motif. Bagian tengah diwarnai, lalu bagian luar diblok dan di-coating untuk mengunci warna," ujar Natalia Tobing, salah seorang peserta, kepada Harian Disway.
Setelah proses pewarnaan, kain didiamkan agar warna meresap. Jika sudah kering, warna dikunci menggunakan waterglass agar tidak mudah luntur.
BACA JUGA: Workshop di Surabaya Tourism Awards (STA) 2026, SuSi Macro Photography Ajarkan Ketelatenan Memotret
BACA JUGA: Lem Rajawali Dukung Rolas Art Festival 2026 SMKN 12 Surabaya Lewat Workshop dan Kolaborasi Kreatif
PESERTA fokus mencanting dan mewarnai kain bermotif bunga dalam workshop batik yang dipandu langsung oleh Firman Asyhari di Hotel Varna Surabaya.-Rosyidah Ariyati -Harian Disway
Tahap akhir adalah pelorotan. Tujuan proses tersebut adalah menghilangkan malam dan menampilkan motif yang sudah jadi.
Natalia mengaku mengikuti kegiatan itu karena diajak temannya. Dia merasa pengalaman membatik itu sangat berkesan.
"Seru banget, ini pengalaman pertama. Seperti mengobati masa kecil yang dulu nggak sempat banyak berkreasi, mewarnai, atau main cat," kata perempuan yang tinggal di Karang Pilang itu.
“Worth it sih. Peralatannya disediakan, hasilnya bisa dibawa pulang. Tapi yang paling mahal itu ilmunya.”
BACA JUGA: Workshop Glow From Within, Cara Perempuan Rawat Diri dari Dalam dan Luar
BACA JUGA: Kembali ke Masa Kecil Lewat Warna, Workshop Mewarnai di Kartini Fest Unair Jadi Terapi Emosional
Peserta lain, Wahyu Dian Indah Mawarni, mengetahui workshop itu dari media sosial. Dia berharap kegiatan seperti itu bisa lebih sering diadakan.
"Menurut saya kegiatan seperti ini harusnya lebih sering. Selain edukasi, juga bisa menjangkau semua kalangan, dari anak muda sampai ibu rumah tangga," ujarnya.
Dia bahkan berencana mengenalkan kegiatan serupa ke lingkungan tempat tinggalnya. "Ini bisa dibawa ke ibu-ibu PKK di rumah. Supaya seni batik tetap hidup dan generasi berikutnya juga tahu," tandasnya. (*)
*) Peserta Magang Kemnaker RI