Kitab Suci di Meja Makan: Mengapa Presisi adalah Harga Mati dalam Event High-End

Kamis 07-05-2026,16:55 WIB
Oleh: Fauzan Iskandar*

Banyak yang mengira menjadi PIC di restoran high-end sekelas Domicile Surabaya hanyalah soal tampil necis dan memastikan piring tersaji tepat waktu. Tetapi, di balik lampu gantung yang redup, panasnya oven pizza, dan denting gelas kristal, ada “perang” ketelitian yang harus dimenangkan setiap detiknya.

Dari balik meja tim Marketing Domicile, saya menemukan sebuah realita. Menjalankan event kelas atas sama dengan memimpin sebuah orkestra, menjadi seorang vokalis, atau menjadi produser rekaman di Abbey Road Studio. Yup, bukan hanya tentang melayani saja.

BEO: Kompas Operasional yang Tak Boleh Salah

Langkah awal kesuksesan sebuah acara dimulai berminggu-minggu sebelum klien meminta penawaran. Saat menangani klien korporat sekelas Time Place Group, semuanya berawal dari satu lembar penawaran (offering). Detail sekecil pilihan canape, cocktail, hingga racikan mocktail harus dibedah tuntas.

Ketika harga disepakati, test food menjadi arena pembuktian. Rasa dan presentasi di piring harus persis seperti bayangan klien. Tidak boleh meleset satu sentimeter pun. Jika ada special request dari klien, kita langsung menyampaikan ke departemen apakah bahan-bahannya tersedia.

Di fase krusial inilah Banquet Event Order (BEO) lahir. BEO adalah “Kitab Suci” bagi kami. Ia adalah panduan operasional mutlak yang mengikat instruksi kerja lintas departemen, mulai dari tim Accounting, Kitchen, Bar, Pastry, hingga Service.

Ambil contoh saat acara Tory Burch di La Viz Apartemen, klien datang dengan permintaan canape dan mocktail untuk event skala besar bagi para tamu VIP mereka. Tanpa BEO yang presisi, koordinasi dengan tim Kitchen, Bar, Pastry, dan Service bisa berantakan. Detail kecil yang terlewat bisa menghancurkan mood penyelenggara acara dan PIC Event dalam sekejap.

BACA JUGA:Menarik Benang Merah Kasus Daycare Jogja dan Ponpes di Pati

BACA JUGA:Fail Fast, Learn Faster: Cara Mencetak Engineer yang Berani Naik Level

Produser Lapangan Bertopeng Content Creator

Saat hari H tiba, seorang PIC otomatis berubah wujud menjadi produser lapangan. Saya mengingat betul tensi saat mengawal event outside Time Place Group di Tunjungan Plaza; bagi saya ini adalah medan pertempuran. Di satu sisi, mata saya harus memastikan arus acara berjalan mulus tanpa hambatan. Di sisi lain, tangan saya sibuk memegang gawai, menjalankan peran sebagai content creator.

Di era digital, mendokumentasikan kemewahan secara estetik di Instagram sama krusialnya dengan menjaga kualitas layanan itu sendiri. Audiens online harus bisa “mencicipi” kemewahan itu lewat layar kaca mereka.

Sikap tanggap dan penguasaan product knowledge diuji paling keras saat mengurus kolaborasi. Misalnya, pada proyek “Two Worlds One Table” antara Domicile dan Shu Guo Yin Xiang.

Membangun relasi dengan para KOL (Key Opinion Leader) membutuhkan strategi khusus. Kami merancang KOL Package yang elegan—lengkap dengan kemasan premium, kartu ucapan personal, dan voucher eksklusif. Taktik personalisasi ini terbukti jauh lebih ampuh mendongkrak brand awareness secara organik.

Pemahaman tentang estetika warna dan rasa juga diperlukan. Misalnya, produk A jika disandingkan dengan produk B, apakah cocok secara visual, warna, dan posisi. Di momen tersebut, kita harus mengetahui ciri khas dan warna yang dibawa oleh brand kita.

BACA JUGA:Ketika Kesehatan Sosial Bangsa Sedang Sakit, Siapa Dokternya?

Kategori :