Dari Menara Gading ke Lini Produksi (1): Relevansi Program Studi Pendidikan Tinggi

Sabtu 09-05-2026,10:47 WIB
Oleh: Betharia Noor Indah Sari*

Jebakan Logika Pasar

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) Prof. Badri Munir Sukoco, S.E., MBA., Ph.D., di Badung, Bali, pada 23 April 2026, menyatakan, ”Bapak rektor yang ada di sini semuanya, ada kerelaan, nanti mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi, perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi.” Hal ini dikutip dan diberitakan oleh Kantor Berita Indonesia, Antara, melalui artikel berita berjudul Kemdiktisaintek bakal tutup prodi yang tak relevan dengan kebutuhan tertanggal 23 April 2026. 

Argumen utama yang melatarbelakangi wacana kebijakan itu tampak sederhana dan masuk akal. Indonesia mencetak 1,9 juta lulusan perguruan tinggi setiap tahun, tetapi angka pengangguran terdidik meningkat. Misalnya, jurusan kependidikan memproduksi 490.000 sarjana, sedangkan formasi guru baru yang dibutuhkan hanya 20.000 setiap tahun. Dalam logika sederhana: ada oversupply, maka kurangi produksi. Tutup lini yang tidak efisien. Pendidikan direduksi menjadi sekadar relevansi dengan lowongan kerja yang tersedia HARI INI.

Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, M.P. dari Universitas Widya Mataram (UWM), Yogyakarta, dalam tulisannya, mengkritisi wacana tersebut, Kampus Disaring, mempertanyakan, ”Siapa yang mendefinisikan relevansi?” Industri memiliki spektrum yang luas dan sering kali berorientasi jangka pendek. Prof. Rukmini melanjutkan bahwa hal itu berarti pendidikan tinggi berisiko kehilangan fungsi dasarnya sebagai ruang pembentukan pemikiran kritis dan universitas akan kehilangan otonominya sebagai pusat produksi pengetahuan. 

BACA JUGA:Saatnya Rektor Bertransformasi: Dari Menara Gading ke Pemberdayaan

BACA JUGA:Transformasi Pendidikan ala Prodi Sarjana Terapan Teknologi Veteriner Unair

Padahal, banyak inovasi lahir dari sesuatu yang awalnya tidak relevan secara industri. Penulis mengambil salah satu contoh, teori relativitas Einstein dianggap kurang bermanfaat pada masanya karena aplikasi praktisnya belum ditemukan dan teknologi belum cukup maju. 

Bayangkan, jika saat itu Einstein dipaksa ”tutup mulut”, kita sampai saat ini tidak akan bisa memanfaatkan sistem navigasi GPS, pembaca barcode, atau pemindai laser. Artinya, seharusnya ”relevansi dengan industri terkini” tidak menjadi satu-satunya petunjuk arah untuk mengambil keputusan pemerintah akan/tidak menutup suatu program studi. Relevansi tidak harus dicapai dengan cara mengeliminasi suatu disiplin ilmu.

Humaniora Terancam? Miskonsepsi tentang Humaniora

Program-program studi humaniora (seperti sastra, filsafat, sejarah, dan seni) mungkin bisa dianggap terancam atau akan mengalami krisis karena prioritas pendidikan mengutamakan kebutuhan industri. Padahal, ilmu humaniora bukan tentang memahami puisi Chairil Anwar ataupun argumen Descartes. Ilmu humaniora sangat dibutuhkan demi mengembangkan pemikiran kritis, pengembangan karakter, dan kemampuan memahami berbagai perspektif.

Seorang alumnus Sastra Indonesia Unair, Jazi Jannati, kini menjabat regional marketing manager di perusahaan internasional di bidang pendidikan. Menurut pendapat penulis, hal semacam itu bukanlah anomali dan tidak sepatutnya dianggap anomali. Jannati adalah bukti bahwa pemahaman mendalam tentang budaya, narasi, dan manusia merupakan suatu transferrable skill yang sangat bernilai di pasar nasional dan global. 

Pengalihan Tanggung Jawab

Hal yang lebih mengkhawatirkan daripada wacana penutupan beberapa program studi adalah sifat wacana kebijakan tersebut sebagai solusi instan. Terlihat tegas, tetapi gagal menyentuh akar persoalan. Angka pengangguran terdidik yang tinggi bukan disebabkan oleh keberadaan program studi tertentu. Persoalan sesungguhnya bisa ditelusuri pada tiga hal. 

Pertama, kurikulum yang tidak adaptif. Banyak kampus masih mengajar peserta didik dengan metode dekade lalu untuk menghadapi tantangan kini dan dekade mendatang. 

Kedua, ekosistem riset dan kolaborasi industri yang lemah, sehingga lulusan kurang terpapar pada permasalahan-permasalahan nyata di dalam masyarakat dan di dalam dunia kerja. 

Kategori :