Membangun Paradigma Politik Pancasila(is): Menjelang 1 Juni, Hari Lahir Pancasila

Membangun Paradigma Politik Pancasila(is): Menjelang 1 Juni, Hari Lahir Pancasila

ILUSTRASI Membangun Paradigma Politik Pancasila(is): Menjelang 1 Juni, Hari Lahir Pancasila.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

ADALAH di tingkat hulu, berakhir fatal di tingkat hilir. Adagium itu sengaja saya gunakan sebagai bahan refleksi terhadap perjalanan panjang dunia perpolitikan nasional. Tidak bermaksud memberikan stigma terhadap politik, tetapi memberikan arahan filosofis bagaimana berpolitik itu seharusnya dijalankan. 

Kesalahan memahami politik berimplikasi fatal pada aktivitas politik yang dijalankan. Baik buruknya persepsi masyarakat tidak terlepas dari fakta yang berkembang dalam panggung politik kita selama ini.

Terminologi politik mengacu pada suatu aktivitas mulia yang di dalamnya bersembunyi suatu kemampuan mengelola kepentingan banyak orang agar tercipta suatu tertib sosial. Aktivitas politik diciptakan untuk mengatasi situasi anomali dalam masyarakat. Yang kuat tidak merasa jemawa, yang lemah tidak boleh merasa selalu diperlakukan tidak adil. 

BACA JUGA:Ekonomi Pasar Pancasila dan Harapan Kesejahteraan Bangsa

BACA JUGA:Pancasila dalam Denyut Nadi Talenta Muda Indonesia

Politik itu praktik keluhuran budi. Sebab, di dalamnya ada kepentingan orang lain yang harus diperjuangkan. Narasi politik yang demikian memberikan bukti nilai kemuliaan dalam aktivitas politik. Ia tidak digunakan sebagai sarana mendapatkan keuntungan pribadi, tetapi kemaslahatan publik secara luas.

Hannah Arendt (1958) menyebutkan bahwa politik merupakan seni untuk mengabadikan diri manusia. Melalui kerja politik, manusia berusaha akan dikenang sebagai apa oleh sesama warga negara dan dicatat sejarah karena jasa-jasa dan prestasi dalam membangun kehidupan bersama. 

Karena itu, kemuliaan aktivitas politik seperti itu justru ketika mereka sanggup memberikan jejak positif bagaimana langgam politik harus dimainkan. 

BACA JUGA:Konsensus Tokoh Nasionalis-Religius dalam Merawat Pancasila

BACA JUGA:Pancasila sebagai Roh Pembangunan dan Identitas Bangsa: Refleksi dari Tanah Reog

Nah, pada titik itulah persepsi tentang politik harus diletakkan. Stereotipe negatif politik sesungguhnya bermula dari bagaimana politik itu direpresentasikan. Panggung politik yang penuh dengan narasi kebencian ataupun perebutan kekuasaan an sich dengan menghalalkan segala cara akhirnya mereduksi kemuliaan politik itu sendiri. 

Bagaimana mungkin kemuliaan politik, justru yang terlahir adalah situasi-situasi yang bersifat kontraproduktif. Dominasi praktik perebutan kekuasaan lebih mencolok ketimbang bagaimana memberikan pendidikan politik yang mencerdaskan kepada masyarakat. 

Dalam kontestasi, yang terjadi kemudian adalah panggung politik kita dipenuhi dengan politik uang, arena saling caci maki, politik kebencian, hoaks merajalela, dan sebagainya.

BACA JUGA:Pancasila di Reruntuhan Demokrasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: