Dari Menara Gading ke Lini Produksi (2-Habis): Mengode Relevansi dan Mendekode Kontrol
ILUSTRASI Dari Menara Gading ke Lini Produksi (2-Habis): Mengode Relevansi dan Mendekode Kontrol.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
SATU nyatakan ”harus rela”, satu lagi bilang ”silakan kalau mau”.
Satu peringatkan dalam waktu dekat, satu lagi berusaha rescue.
Lalu, apakah masyarakat hanya bisa lihat dan tunggu?
Pendahuluan
Pada 28 April 2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menerima kritik karena pernyataan Sekretaris Jenderal Prof. Badri Munir Sukoco, S.E., MBA., Ph.D.
Pada Simposium Nasional Kependudukan di Badung, Bali, ia mengatakan, ”ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama”, terkait perubahan, atau bahkan, penutupan program-program studi ”untuk bisa meningkatkan relevansi”. Hal itu memicu kritik dari berbagai kalangan masyarakat.
Pada 28 April 2026, Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek Prof. Dr. Mukhamad Najib, S.TP., M.M. tampil dalam wawancara kanal berita televisi berjudul Kemdiktisiantek Buka Suara! Soal Prodi Tak Relevan Mau Ditutup & Nasib Mahasiswa.
BACA JUGA:Dari Menara Gading ke Lini Produksi (1): Relevansi Program Studi Pendidikan Tinggi
BACA JUGA:Saatnya Rektor Bertransformasi: Dari Menara Gading ke Pemberdayaan
Ia menawarkan narasi yang berbeda. Penutupan program studi (prodi) bersifat bottom-up, diusulkan perguruan tinggi, bukan top-down dari pemerintah.
Esai ini menggunakan model encoding/decoding Stuart Hall untuk menganalisis dua pernyataan tersebut sebagai strategi diskursif yang bersaing dalam institusi yang sama. Argumen esai ini adalah ketegangan yang tampak bukanlah suatu kebetulan, melainkan suatu ideologi yang lebih dalam.
Momen Pengodean: Bingkai Hegemoni
Model encoding/decoding Stuart Hall menolak paradigma liner ”pengirim-pesan-penerima”. Model itu menegaskan bahwa komunikasi terjadi melalui momen-momen yang saling terhubung.
Mulai produksi, sirkulasi, distribusi, konsumsi, hingga reproduksi. Momen encoding adalah tempat makna dibuat. Makna tidak pernah netral dan selalu mengandung ideologi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: