Dari Menara Gading ke Lini Produksi (2-Habis): Mengode Relevansi dan Mendekode Kontrol
ILUSTRASI Dari Menara Gading ke Lini Produksi (2-Habis): Mengode Relevansi dan Mendekode Kontrol.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Pembedaan Prof. Najib antara ”bidang keilmuan” dan ”jenjang kualifikasi” juga melakukan operasi ideologi yang sama pentingnya. Pembedaan semacam itu mengode bahwa kualifikasi yang lebih tinggi sama dengan hasil yang lebih baik.
Pembedaan tersebut juga mengode bahwa evolusi pasar menuju D-4 atau sarjana adalah sesuatu yang natural. Padahal, itu berarti ada mekanisme stratifikasi kelas yang dianggap sebagai kemajuan yang netral.
Kesimpulan: Double-Take sebagai Strategi Hegemonik
Double-take antara narasi eksekusi dan narasi bottom-up bukanlah kegagalan komunikasi, melainkan strategi hegemonik. Model encoding/decoding Stuart Hall mengungkapkan bahwa kementerian tidak berbicara dengan satu suara kepada satu audiens, tetapi dengan banyak suara kepada banyak audiens.
Dalam kasus Kemdiktisaintek kali ini, tujuan utama esai ini bukanlah tentang apakah penutupan prodi bersifat top-down atau bottom-up. Tujuan utama esai ini adalah mengkritisi, apakah perguruan tinggi akan diatur semata-mata demi kepentingan strategi industri. (*)
*) Betharia Noor Indah Sari Mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya (MKSB), Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: