Dari Menara Gading ke Lini Produksi (2-Habis): Mengode Relevansi dan Mendekode Kontrol
ILUSTRASI Dari Menara Gading ke Lini Produksi (2-Habis): Mengode Relevansi dan Mendekode Kontrol.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Posisi Pendekodean: Dominan, Dinegosiasikan, dan Oposisional
Stuart Hall mengidentifikasi tiga posisi dekode: dominan-hegemonik, dinegosiasikan, dan oposisional. Penerimaan publik terhadap pernyataan Kemdiktisaintek bisa mengilustrasikan ketiganya.
Dekode dominan-hegemonik terhadap pernyataan Prof. Sukoco akan menerima pembingkaian bahwa pendidikan harus melayani strategi industri, bahwa oversupply lulusan berarti ada masalah inheren, dan bahwa intervensi negara diperlukan untuk memperbaiki kegagalan pasar.
Misalnya, bagi audiens pewakilan industri, tentu retorika ”eksekusi” tidak mengagetkan, tetapi menenangkan. Itu menandakan kepemimpinan yang tegas.
Dekode yang dinegosiasikan akan menerima premis umum tentang efisiensi. Misalnya, audiens akademisi mungkin akan setuju bahwa beberapa program butuh revitalisasi, tetapi akan khawatir tentang kriteria ”relevansi” prodi serta perlindungan mahasiswa, dosen, dan staf yang prodinya harus mengalami perubahan.
Wawancara Prof. Najib secara eksplisit dirancang untuk audiens itu. Jaminan prosedural ditawarkan, bahwa studi mahasiswa harus diselesaikan dulu sebelum ada penutupan. Hal itu merupakan kompromi yang dinegosiasikan antara logika pasar dan etika pendidikan.
Sedangkan, dekode oposisional menolak seluruh kerangka ideologis. Dari posisi itu, ”relevansi” Prof. Sukoco akan diungkap sebagai kode untuk ketaatan pada kepentingan korporat. Narasi bottom-up Prof. Najib akan dibongkar sebagai penyesuaian struktural. Audiens dengan posisi dekode oposisional mungkin akan mencatat bahwa delapan industri strategis ditentukan negara.
Dengan demikian, hal itu merepresentasikan top-down, terlepas dari apakah penutupan suatu prodi diusulkan universitas atau tidak. Audiens itu mungkin akan mempertanyakan mengapa program populer dianggap kelebihan suplai, sedangkan program untuk industri strategis dirayakan?
Asimetri itu menunjukkan bahwa pasar hanya alat yang digunakan secara selektif untuk menjustifikasi arah kebijakan yang telah ditentukan sebelumnya.
Ideologi ”Relevansi”: Dari Wacana ke Praktik Sosial
Model Stuart Hall bertujuan memahami pesan yang didekode. Pesan itu diterjemahkan ke dalam praktik sosial melalui reproduksi. Peristiwa Kemdiktisaintek tersebut mengungkapkan bagaimana ideologi ”relevansi” berfungsi sebagai artikulasi hegemonik (Hall mengutip Antonia Gramsci).
Ada koneksi antara konsep-konsep yang tampak netral (efisiensi, pengajaran, kebutuhan masa depan) dan kepentingan kelas tertentu (industri, pemberi modal, birokrasi negara). Pengodean ”relevansi” Prof. Sukoco melakukan dua operasi ideologi.
Pertama, pengodean tersebut mengubah keputusan politik tentang industri mana yang diprioritaskan menjadi keputusan teknis tentang pengetahuan mana yang dianggap bernilai.
Kedua, pengodean tersebut menghapus pertanyaan tentang siapa yang mendefinisikan dan untuk kepentingan siapa, dengan membingkai penutupan prodi sebagai respons terhadap kelebihan suplai.
Seakan-akan pengangguran sebagai masalah ketidakcocokan pendidikan merupakan sesuatu yang natural. Seakan-akan 470.000 lulusan guru masih menganggur itu bukan kegagalan ekonomi, melainkan salah pilih prodi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: