Homeless Media dan Masa Depan Ruang Informasi

Senin 11-05-2026,22:26 WIB
Oleh: Gilang Gusti Aji*

PEMBERITAAN mengenai upaya Badan Komunikasi Pemerintah merangkul sejumlah homeless media yang tergabung dalam Indonesian New Media Forum (INFW) memicu polemik di media sosial. Perdebatan kian ramai setelah beredarnya daftar media yang disebut terlibat dalam pertemuan tersebut. 

Publik merespons dengan keras. Mereka mempertanyakan independensi media-media yang namanya tercantum dan mengaitkannya dengan kepentingan kekuasaan. Di tengah derasnya arus opini tersebut, beberapa media kemudian memberikan klarifikasi bahwa mereka tidak pernah diajak bekerja sama ataupun terlibat dalam agenda yang dimaksud.

Fenomena itu menarik dibaca dari dua sisi sekaligus. Di satu sisi, reaksi publik menunjukkan bahwa isu independensi media masih menjadi perhatian penting masyarakat. Publik tampak makin sensitif terhadap kemungkinan kedekatan media dengan kekuasaan politik. 

Namun, di sisi lain, polemik itu juga memperlihatkan bagaimana media sosial dengan cepat membentuk pelabelan terhadap media tertentu, bahkan sebelum informasi yang beredar terverifikasi secara utuh.

BACA JUGA:Mengapa Pemerintah Mendadak Rangkul Homeless Media? Ini yang Dikhawatirkan Akademisi

BACA JUGA:Bakom RI Gandeng Media Homeless Jadi Mitra Pemerintah, Ini Daftarnya!

Dalam konteks demokrasi digital, situasi semacam itu memperlihatkan bahwa kecepatan arus informasi sering kali melampaui proses klarifikasi. Sebuah daftar yang viral dapat segera membentuk persepsi publik hanya dalam hitungan jam, sedangkan verifikasi membutuhkan waktu yang lebih panjang. 

Akibatnya, opini publik kerap dibangun tidak berdasar informasi yang telah teruji, tetapi dari asumsi dan sentimen yang berkembang di ruang digital.

Tanpa Rumah dengan Pengaruh Besar

Reaksi keras publik terhadap interaksi homeless media dengan pemerintah menunjukkan bahwa masyarakat masih menempatkan media sebagai institusi yang diharapkan berpihak kepada kepentingan publik, bukan kekuasaan. 

Sensitivitas tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari pengalaman panjang masyarakat terhadap berbagai bentuk kooptasi informasi, baik oleh kepentingan politik maupun ekonomi. 

BACA JUGA:Homeless Media: Dari Media Sosial ke Sumber Berita

Dalam situasi ketika ruang publik dipenuhi persaingan narasi dan kepentingan, publik menjadi makin mudah curiga terhadap media yang dianggap memiliki kedekatan dengan penguasa.

Istilah homeless media sendiri memang belum banyak dipahami masyarakat luas. Penelitian Remotivi (2024) mendefinisikan homeless media sebagai outlet informasi yang mendistribusikan berita terutama melalui media sosial tanpa memiliki ”rumah” berupa situs web maupun entitas media formal. 

Banyak di antaranya tidak lahir sebagai media berita, tetapi berkembang dari akun komunitas, hobi, atau promosi lokal yang kemudian bertransformasi menjadi kanal informasi karena tingginya keterlibatan audiens terhadap konten yang mereka unggah.

Kategori :