Menurut dia, budaya lokal tidak boleh berhenti hanya sebagai simbol seremonial. Budaya harus terus dikenalkan dan dirawat agar tetap hidup di tengah masyarakat.
BACA JUGA:Perda Ketenagakerjaan Dorong Serapan Tenaga Lokal: DPRD Gresik Soroti Kesenjangan Kompetensi
Ia pun menyinggung sejumlah identitas khas Gresik. Mulai dari Pencak Macan hingga kuliner tradisional seperti nasi krawu dan pudak.
“Jangan sampai budaya kita hilang. Warga Gresik di perantauan harus ikut mengenalkan budaya daerahnya,” tegasnya.
Dalam sesi talkshow, sejumlah rekomendasi strategis juga disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Gresik melalui Ketua DPRD. Rekomendasi itu menitikberatkan pada pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, diaspora, akademisi, ulama, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat sektor pendidikan, kebudayaan, serta ekonomi berkelanjutan.
Anggota DPR RI Jazilul Fawaid dalam kesempatan tersebut turut menegaskan pentingnya pembangunan sumber daya manusia untuk mendukung visi Gresik Emas. Menurut dia, kemajuan daerah tidak cukup hanya bertumpu pada pertumbuhan industri.
“Pendidikan harus menjadi fondasi utama. Gresik masa depan harus dibangun oleh SDM yang kuat, bukan hanya ekonomi yang tumbuh,” ujar Jazilul.
Selain Syahrul dan Jazilul, kegiatan itu juga dihadiri sejumlah tokoh lain. Di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno, anggota DPR RI Falah, Deputi Bappenas Amich Alhumami, Imam Subchi, serta sejumlah tokoh masyarakat dan akademisi asal Gresik.
BACA JUGA:DPRD Gresik Kawal Implementasi Perda Pekerja Migran: Tingkatkan Literasi demi Migrasi Aman
Momentum tersebut juga ditandai dengan pengukuhan Pengurus Paguyuban Warga Gresik di Jabodetabek periode 2025–2028 dengan Masbukhin Pradhana sebagai ketua terpilih. Pengukuhan itu menjadi simbol penguatan organisasi diaspora Gresik di perantauan.
Sementara itu, suasana festival berlangsung meriah namun tetap khidmat. Sejak sore hingga malam, ratusan warga tampak memenuhi area Anjungan Jawa Timur di TMII. Mereka datang bersama keluarga dan kerabat untuk bersilaturahmi sekaligus melepas rindu dengan suasana khas Gresik.
Acara diisi dengan halalbihalal, pertunjukan seni budaya, peluncuran buku, pembagian door prize, doa bersama, hingga pergelaran seni bertajuk Tulajek, Gresik Nyawiji oleh Komunitas Kota Seger. Seluruh rangkaian kegiatan itu memperkuat ikatan emosional warga Gresik di perantauan. (*)