Kita sedang senang sekali bicara hilirisasi. Hampir setiap pidato ekonomi menyebut kata itu. Smelter dibangun. Ekspor bahan mentah dibatasi. Industri pengolahan tumbuh di berbagai daerah. Ada rasa bangga: akhirnya Indonesia tidak lagi sekadar menjual tanah, batu, nikel, bauksit, tembaga, dan sumber daya alam dalam bentuk mentah.
Itu tentu kemajuan. Tidak salah. Bahkan harus didukung.
Tetapi ada pertanyaan yang jarang diajukan: setelah bahan mentah itu diolah, apakah pengetahuan kita juga ikut naik kelas?
Jangan-jangan yang hilir baru materialnya. Bukan ilmunya. Jangan-jangan yang bertambah baru bangunannya. Bukan kemampuan rekayasanya. Jangan-jangan kita sudah merasa menjadi negara industri, padahal pusat teknologinya masih berada di luar negeri.
Inilah soal yang lebih mendasar.
Hilirisasi tidak boleh berhenti pada kemampuan mengubah bijih menjadi logam. Tidak cukup hanya mengubah bahan mentah menjadi produk antara. Itu baru satu tangga. Masih banyak tangga berikutnya: desain produk, pengembangan proses, penguasaan material, sistem kontrol, presisi manufaktur, standardisasi kualitas, hingga kemampuan menciptakan teknologi sendiri.
Di situlah sebenarnya inti industrialisasi.
Bangsa yang kuat industrinya bukan hanya bangsa yang punya banyak pabrik. Tetapi bangsa yang menguasai pengetahuan di balik pabrik itu. Ia tahu bagaimana material bekerja. Ia mengerti bagaimana mesin dikembangkan. Ia mampu mendesain proses. Ia bisa memperbaiki teknologi. Bahkan mampu menciptakan teknologi baru sesuai kebutuhan negaranya sendiri.
BACA JUGA:Khofifah Gandeng BRIN Perkuat Riset dan Hilirisasi Inovasi
BACA JUGA:Investasi Rp116 Triliun! Presiden Prabowo Resmikan 13 Proyek Hilirisasi Raksasa di Cilacap
Tanpa itu, hilirisasi bisa menjadi setengah matang.
Kita bisa saja mengolah mineral di dalam negeri. Tetapi setelah menjadi bahan olahan, proses lanjutannya tetap terjadi di luar negeri. Di sana material itu diubah menjadi komponen presisi, sistem mekanik, baterai, perangkat elektronik, mesin, atau produk teknologi tinggi. Setelah itu, produk akhirnya masuk lagi ke pasar Indonesia dengan harga jauh lebih mahal.
Kita mengekspor bahan. Lalu mengimpor kecanggihan.
Kita mendapat nilai tambah. Tetapi bukan nilai tertinggi.
Padahal, nilai tertinggi dalam industri modern bukan terletak pada material semata. Nilai tertinggi ada pada desain, rekayasa, teknologi proses, perangkat lunak, sistem kontrol, dan kemampuan inovasi. Bahan baku memang penting. Tetapi bahan baku tanpa pengetahuan hanya membuat kita sedikit lebih maju dari penjual bahan mentah.
Belum menjadi penguasa teknologi.