Jebakan Hilirisasi Setengah Matang, Jangan Cuma Bangga Punya Smelter

Senin 18-05-2026,14:50 WIB
Oleh: Lalak Indiyono*

Maka ukuran keberhasilan hilirisasi seharusnya tidak hanya dihitung dari jumlah smelter, nilai investasi, atau kenaikan ekspor. Itu penting, tetapi belum cukup.

Pertanyaan berikutnya harus lebih tajam: berapa banyak insinyur lokal yang terlibat dalam desain prosesnya? Berapa banyak teknologi dalam negeri yang dipakai? Berapa banyak industri turunan yang tumbuh? Berapa banyak paten, prototipe, dan produk rekayasa nasional yang masuk ke jalur produksi? 

Kalau semua mesin utama masih impor, perangkat kontrol masih impor, teknologi proses masih impor, dan keputusan teknis utama masih bergantung pada pihak luar, maka hilirisasi kita belum sepenuhnya mandiri.

Kelihatannya industri. Tetapi jantung teknologinya belum kita kuasai. 

Di sinilah penting membedakan dua hal: hilirisasi material dan hilirisasi pengetahuan. Hilirisasi material berarti bahan mentah diolah di dalam negeri. Hilirisasi pengetahuan berarti kemampuan berpikir, mendesain, merekayasa, menguji, memproduksi, dan mengembangkan teknologi juga tumbuh di dalam negeri.

BACA JUGA:Hilirisasi Tahap II Cilacap: Pesan Prabowo untuk Insinyur dan Teknokrat 'Merah Putih'

BACA JUGA:Groundbreaking Tahap II Cilacap, Prabowo Tegaskan Hilirisasi Kunci Kebangkitan Bangsa

Yang pertama menghasilkan pabrik. Yang kedua menghasilkan peradaban industri.

Sayangnya, pembangunan industri kita sering lebih terpesona pada fisik. Pada bangunan besar. Pada kapasitas produksi. Pada nilai investasi. Pada angka ekspor. Padahal industri modern tidak hanya dibangun oleh beton, baja, dan mesin. Industri modern dibangun oleh manusia yang menguasai ilmu. 

Kita sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Di kampus teknik, politeknik, lembaga riset, dan bengkel-bengkel industri, banyak gagasan rekayasa tumbuh. Ada rancangan proses yang lebih hemat energi. Ada desain alat yang lebih sesuai dengan kondisi lokal. Ada teknologi yang secara konsep bisa bersaing dengan produk impor. 

Masalahnya, banyak yang berhenti di laboratorium. 

Berhenti di laporan penelitian. Berhenti di seminar. Berhenti di prototipe. Tidak pernah diberi ruang untuk diuji dalam skala industri. Akibatnya, teknologi lokal tidak pernah menjadi proven technology. Ia tidak dipercaya pasar karena belum pernah dipakai. Tetapi ia tidak pernah dipakai karena sejak awal tidak dipercaya.

Lingkaran ini harus diputus.

Memang, dunia usaha punya alasan. Mereka memilih teknologi luar karena dianggap lebih aman. Sudah terbukti. Sudah dipakai di banyak negara. Risiko gagalnya lebih kecil. Itu masuk akal dari sisi bisnis. 

Tetapi kalau semua pihak selalu bermain aman, kapan teknologi nasional akan matang?

Tidak ada teknologi yang langsung sempurna sejak lahir. Semua teknologi besar di dunia pernah dimulai dari percobaan, kegagalan, perbaikan, dan keberanian memberi ruang belajar. Negara-negara industri maju tidak hanya membangun pabrik. Mereka membangun ekosistem belajar teknologi. Mereka memberi kesempatan pada insinyur, peneliti, teknisi, kampus, dan industri domestik untuk tumbuh bersama. 

Kategori :