Jebakan Hilirisasi Setengah Matang, Jangan Cuma Bangga Punya Smelter

Senin 18-05-2026,14:50 WIB
Oleh: Lalak Indiyono*

BACA JUGA:Resmikan Proyek Hilirisasi Tahap II, Prabowo: Jalan Tunggal Menuju Kemakmuran

BACA JUGA:Presiden Targetkan Swasembada Energi Paling Lambat 2029, Kebut Program Hilirisasi Nasional

Indonesia juga harus berani ke sana.

Negara tidak harus mengambil alih semuanya. Tetapi negara harus menciptakan ruang tumbuh. Misalnya melalui proyek percontohan teknologi lokal, insentif bagi industri yang memakai rekayasa dalam negeri, skema pembagian risiko awal, kolaborasi kampus-industri, dan kewajiban transfer pengetahuan yang lebih serius dalam proyek investasi besar.

Jangan sampai investasi asing hanya membawa mesin, tetapi tidak membawa pembelajaran. Jangan sampai tenaga kerja kita hanya menjadi operator, bukan pengembang teknologi. Jangan sampai kampus hanya menjadi penonton di halaman sendiri.

Hilirisasi harus menjadi sekolah besar bagi bangsa ini.

Setiap smelter seharusnya melahirkan pusat rekayasa. Setiap industri pengolahan seharusnya membuka ruang riset terapan. Setiap proyek industri besar seharusnya menyisakan kemampuan baru bagi insinyur lokal. Setiap investasi seharusnya meninggalkan jejak pengetahuan, bukan hanya jejak produksi.

Kalau itu terjadi, dampaknya akan jauh lebih besar. Industri kecil dan menengah bisa ikut tumbuh. Bengkel presisi lokal bisa berkembang. Pemasok komponen dalam negeri naik kelas. Kampus teknik punya ruang praktik nyata. Lulusan teknik tidak hanya mencari kerja, tetapi ikut menciptakan teknologi. 

Industrialisasi tidak lagi hanya menjadi proyek besar di kawasan tertentu. Ia menjadi jaringan kemampuan nasional. 

Itulah hilirisasi yang sesungguhnya.

Bukan sekadar mengolah nikel. Tetapi mengolah pengetahuan. Bukan hanya membangun smelter. Tetapi membangun otak industri. Bukan cuma menahan bahan mentah agar tidak keluar negeri. Tetapi memastikan ilmu, teknologi, dan rekayasa tumbuh di tangan anak bangsa sendiri. 

Sebab bangsa yang hanya mengolah sumber daya alam akan mendapat nilai tambah sementara. Tetapi bangsa yang menguasai pengetahuan akan menguasai masa depan. 

Kita boleh bangga punya smelter. Tetapi jangan berhenti di sana. Karena masa depan industri Indonesia tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak bahan yang kita proses, melainkan oleh seberapa jauh kita mampu menciptakan teknologi sendiri. 

Hilirisasi material penting. Tetapi tanpa hilirisasi pengetahuan, kita hanya pindah posisi: dari penjual bahan mentah menjadi operator industri. Padahal cita-cita kita tentu lebih tinggi dari itu.

Kita ingin menjadi bangsa pencipta. Bukan sekadar bangsa pengolah.

*) Dosen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas 45 Surabaya

Kategori :